Surat Terbuka untuk Manusia-Manusia Maha Benar

Dalam berjalannya sebuah kehidupan yang sangat penuh akan sebuah proses-proses pencarian tentang berjuta tanya dalam kepala, kita kerap dihadapkan akan beragamnya pilihan. Dalam sebuah proses mencari dan menemukan, kita terus-menerus akan bertemu dengan sesuatu untuk ditetapkan sebagai keputusan. Kita juga pasti akan bertemu dengan beberapa orang yang merendahkan keputusan yang kita ambil. Sesederhana kita memilih pasangan saja, kerap kali lingkungan kalian ada yang memandang bahwa itu tidak baik, tidak cocok untuk kita, dan masih banyak lagi ujaran-ujaran yang sebetulnya tak pernah ingin didengar, keluar dari sekitarnya. Sampai seberat memilih untuk pindah dari satu agama ke agama yang lainnya–untuk hal ini lebih banyak menerima ujaran-ujaran kalimat buruk yang lebih menyakitkan untuk didengar. Apa tidak sadar jika ucapannya sudah menyakitkan sekali?

Kenapa kita tidak bisa berhenti di bagian di mana kita tidak perlu menghakimi sebuah keputusan yang orang lain ambil, berhenti untuk menanamkan standar hidupmu untuk menjadi standar hidup orang lain? Aku tau, memang kadang egois untuk memaksa lingkungan tidak mengkritik kita. Aku tau juga beberapa kalimatmu mengandung hal baik yang ingin kamu sampaikan. Tapi aku merasa caranya tidak harus seperti itu, coba diubah kalimat menyakitkan jadi kalimat yang sedikit lebih baik untuk didengar telinga manusia.

Beberapa orang tidak akan pernah mengerti seberapa panjang perjalanan yang sudah kita lewati. Beberapa juga tidak pernah mau tau sudah berapa kali kita jatuh lalu bangun, lalu jatuh lagi, lalu bangkit lagi. Apa mereka pikir usaha untuk bangkit itu mudah? Usaha untuk merasa baik-baik saja terus-menerus juga mudah? Beberapa orang sering kali memandang rendah sebuah luka yang dialami orang lain. Sekali lagi, mereka tidak pernah tau dan mau tau apa yang sudah membentuk diri ini menjadi pribadi yang seperti ini. Bahkan orang paling dekat dalam keseharian kita saja, seperti orang tua, kadang tidak bisa menerima keputusan anaknya, langsung segera ditolak habis-habisan sebelum sempat diberi alasan yang panjang kali lebar. Pada akhirnya yang dirasakan hanya semakin terpuruk, semakin takut, semakin menjauh dari lingkungan. Coba ingat-ingat, sudah berapa orang yang kalian hancurkan karena keputusan dan pilihannya kalian rendahkan begitu saja, kalian cap salah begitu saja, lalu kalian mulai menanamkan jiwa Maha Benar kalian kepada diri orang tersebut. Padahal sebenarnya yang menurut kalian benar pun belum tentu baik untuknya dan yang menurut kalian baik pun belum tentu benar untuknya.

Berhenti untuk jadi Si Maha Benar. Aku juga akan belajar untuk tidak egois dan mau mendengarkan kritikan orang lain. Coba sama-sama belajar untuk tidak memandang rendah tiap luka, tiap keputusan, dan tiap rasa yang telah dilewati orang lain. Coba beri ruang juga untuk saling mendengar. Jangan terus merasa benar karena hakikatnya manusia belajar dan mendengar. Keputusan yang sudah diambil orang lain pasti sudah melewati banyak fase di dalam dirinya. Dia harus melewati perang batin dulu dengan dirinya sampai bisa mengambil keputusan, dia yang harus melewati banyak tangis di tiap malamnya akhirnya memutuskan untuk menjadi dirinya yang sekarang. Sudah habis-habisan dia dibentuk akan lukanya, jangan ditambah dengan kata-kata menyakitkan dari bibir manis kalian, ya? Saling menghargai dan saling mendengar lagi sebagai manusia sebab kata-kata yang menurut kalian hanya biasa saja bisa jadi berdampak besar untuk diri orang lain, bisa berdampak besar bagi psikis orang tersebut. Atau mungkin lebih baik diam, jika tidak mampu untuk berkata yang tidak menyakitkan orang lain?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top