Dongeng Malam Hari

Kala itu, malam dan segudang rahasianya sedang terang-terangan merapal segala yang tersembunyi dalam sukma. Dibawanya aku pada kenangan-kenangan paling membahagiakan dan juga paling memilukan saat masih bersama ada dalam ruangan yang berisikan penuh akan sang jelita.

Sadar, bahwa kita tak sama-sama sepakat dengan takdir baik. Meski abadi tidak benar-benar ada dalam kisah kita, tapi cerita ini akan aku rangkai jadi dongeng malam hari yang paling mampu buat seisi telinga yang mendengarnya akan dibuat basah akan segala air bah yang mengalir lewat mata-mata indah mereka.

Rasanya ingin pulang kembali, menuju ramah dan indahnya rumahmu yang dahulu teramat mampu beri teduh, tenangkan hal buruk, redakan setiap marah dan segala emosi yang ada dalam jiwa. Kita beserta segala semoga yang kita bawa dahulu, berharap diamini oleh Sang Pengendali Semesta. Memaksa Tuhan agar sejalan dengan ingin kita yang pada akhirnya sama-sama memilih menyerah agar tak lebih jauh saling memaksakan. Entah itu pilihan bersama, hanya putusanku saja, atau putusanmu saja.

Rahasia terbesar Yang Maha Agung, siapa yang akan kelak membersamai kita dalam melewati segala ombak dalam laut kita, dalam badai perjalanan kita di dunia. Siapa yang akan pada akhirnya jadi manusia pilihan semesta untuk berjalan bersama menelusuri tiap-tiap jalan yang ada dalam peta rahasia masing-masing kita. Kata para pujangga yang namanya telah ada dalam ingatan banyak orang “Jangan pernah berharap lebih pada sesama manusia, jika tidak ingin hancur oleh besarnya harapan itu sendiri,” kira-kira itu yang pernah kubaca dan juga kudengar. Tapi biarlah aku hancur bersama segala harapan, tiap manusia yang sepakat untuk berjalan bersama pun telah sama-sama saling mengiakan bahwa akan ada jatuh dalam akhir cerita yang rahasianya masih sangat tertutup rapat dalam perjalanan waktu semesta.

Seluruh manusia yang telah memutuskan untuk bersama pasti telah memiliki keterikatan emosi yang sangat besar untuk saling membangun harap. Harapan muncul seperti halnya yang pernah dikatakan Newton tentang hukum sebab-akibat. Akan ada sebab sebelum muncul serangkaian akibat yang membersamainya, seperti halnya pula tentang proses lahir dan tumbuhnya setiap harap dalam dada kita. Beberapa harapan memang telah dibekali kehancuran di dalamnya, terkadang itu memang naskah yang telah dirakit semesta untuk tiap-tiap kita. Ada luka yang jadi wujud dari segala bencana masa lalu yang akan buat mekar tanah-tanah baru yang akan berisikan manusia yang telah disepakati bersama oleh seluruh alam dan sepenuhnya diri kita.

Dongeng-dongeng paling hebat satu dunia, selalu berhasil meraih akhir bahagia dalam setiap ceritanya dan juga segudang pesan penuh makna yang akan jadi hadiah untuk siapa pun yang telah andil untuk mendengar sampai usai.

Hidup dalam dunia dongeng selalu semenyenangkan itu, tapi kabar buruknya kita hidup dalam realita yang kerap kali beri akhir buruk dalam beberapa cerita yang telah berkali-kali kita harapkan mampu diaminkan oleh seisi alam, namun “nyatanya” kita dihantam kasarnya realita. Tetapi dari luka kita dibentuk untuk lebih menjadi manusia yang sepenuhnya, meski perjalanan untuk menjadi manusia akan sangat menyakitkan, akan hadir banyak luka, banyak gagal dan jatuh, banyak tangis, banyak kecewa, dan banyak lagi yang berisikan hal buruk.

Tapi dalam perjalanan yang sangat panjang ini tidak semuanya berisikan hal buruk, ada banyak pula kenangan tentang hal baik, tentang bagaimana sekitar kita beri tahu bahwa baik dan buruk hanya tentang dari perspektif mana kita melihat suatu peristiwa tersebut. Dalam suatu kenangan buruk yang telah terekam dalam ingatan kita, di dalamnya tidak hanya ada luka, ada pula suka dan teguran dari alam yang sedikit kasar beri tahu kita bahwa ”Ini belum seberapa, ceritamu belum usai,” langkah baru memang selalu berat, apalagi melangkah dengan membawa kenangan berisikan apa-apa yang tidak sesuai dengan naskah rancangan kita.

Tidak apa-apa jika ingin menangis sekeras-kerasnya, bahkan lebih keras dari suara klakson bus antarprovinsi. Kita semua punya hak untuk menangis sebebas mungkin, tetapi menangislah dengan tetap dalam kuasa dinginnya kepala kita. Jangan larut tenggelam bersama air mata, arusnya bisa sangat deras membawa dirimu menuju kehilangan yang lebih besar lagi, yaitu kehilangan diri sendiri. Kehilangan orang lain jangan sampai buatmu kehilangan apa-apa yang telah ada dalam dirimu. Dengan adanya kehilangan kau pun akan dibuat untuk menemukan apa-apa yang ada dalam dirimu yang sebelumnya tak pernah terlihat ada. Tak perlu mencoba untuk melupa, mencoba melupakan ialah cara paling ampuh untuk semakin mengingat seluruhnya. kita tak pernah bisa untuk selalu berjalan bersama takdir baik, terima sepenuhnya bahwa ini cara alam membentuk kita menjadi manusia-manusia kuat untuk cerita rahasia selanjutnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top