Berbicara untuk “Saya”

Terhitung sudah tujuh bulan saya ada di rumah. Saya kembali beradaptasi dengan ruang-ruang yang lama tidak saya datangi. Banyak kenangan masa kecil yang bisa sewaktu-waktu saya putar, namun saya putuskan untuk meninggalkannya di sana. Banyak kegelisahan yang hadir ketika saya sendiri. Mungkin ada sebagian orang yang merasa kalau:

“Usia bertambah, pikiran juga ikut tercacah.”

Kalimat ini terlintas di pikiran saya dalam akhir-akhir ini. Posisi sebagai anak sulung, juga mahasiswa aktif, juga anggota kepanitiaan dan sekarang sedang mengikuti suatu program intern, seringkali hati ngebatin kalau beban hidup ini semakin menjadi-jadi. Saya jauh dari kata nyaman ketika ingin kembali beraktivitas seperti sediakala. Berat rasanya jika selalu mengikuti bayang-bayang enaknya hidup dalam imajinasi sendiri. Sampai akhirnya, suatu hari saya menjumpai ayah saya dan memberanikan diri mengatakan: saya hanya mau menjadi diri saya sendiri yang tidak suka keramaian.

Ayah saya ini bukan tipe orang yang banyak berbicara, namun kepekaannya sungguh tidak ada yang bisa menandingi. Satu nasihat yang selalu melekat darinya adalah pesan kalau kita merupakan penguat bagi diri sendiri. Keadaan di luar sana memang tidak selamanya menjadi rencanamu saja, ada ribuan manusia yang juga ikut berjuang menguatkan diri masing-masing. Jika kita mau terus berjuang, akan ada tangan lain yang ikut menguatkan.

Pikiran saya bukannya menjadi tenang setelah Ayah bergegas ke kamarnya, saya malah dibuat heran. Apa yang sebenarnya mau saya temukan dalam hidup? Tekanan apa yang membuat saya lengah untuk mau jujur?

Saya amat menyadari jika manusia adalah makhluk yang hidup berdampingan. Tidak ada cerita jika semua fenomena sosial yang ada bukan karena hasil interaksi individu ke individu, maupun ke suatu kelompok. Sayangnya kita sering lupa untuk mendengar satu sama lain. Kita sering lupa untuk menjernihkan belenggu dengki untuk tidak menghakimi satu sama lain. Karena sebelumnya, proses mengenali diri sendiri adalah dengan mendengarkan perbedaan “kemauan” dan “kebutuhan” hanya sebatas diam.

Pada akhirnya, siapa yang akan menentukan jalan kehidupan adalah kita yang mau berbicara dengan sepenuh hati kepada pengalaman-pengalaman pahit dan manis yang pernah terjadi.  

Belum terlambat untuk berbicara lebih untuk diri sendiri. Belum ada akhir untuk berkontemplasi. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling hebat, hidup adalah tentang kamu dan sejuta maknanya. 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top