Menurutmu, Apa Bentuk Nyata dari Empati?

Baru-baru ini, saya membaca beberapa artikel mengenai bias kognitif yang menyebabkan manusia kesulitan untuk memahami kondisi mental yang berbeda dari kondisi mereka, atau biasa dikenal dengan istilah empathy gap. Secara singkat, empathy gap terbagi menjadi dua, yaitu kondisi panas dan kondisi dingin. Kondisi panas adalah ketika kondisi mental kita dipengaruhi oleh rasa lapar, ketakutan, kelelahan, atau emosi kuat lainnya. Sementara itu, kondisi dingin adalah kondisi mental yang tidak dipengaruhi oleh emosi apa pun serta cenderung lebih rasional dan logis. 

Berkaitan dengan teori kesenjangan empati tersebut, sebagai manusia yang terkadang berada dalam kondisi mental panas ataupun dingin, kita sering kali gagal untuk memosisikan diri terhadap kondisi orang lain yang bertolak belakang dengan kita. 

Maka, jika bicara soal bentuk nyata dari empati, saya pikir kita perlu menarik garis refleksi pada setahun belakangan ini. Tidak dapat dimungkiri, tahun 2020 adalah tahun prihatin dan tahun mewawas diri bagi seluruh umat manusia. Sepanjang tahun, kita dipaksa untuk mempersempit kesenjangan empati yang ada. Pagi, siang, sore, dan malam seakan selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengetuk pintu rumah tetangga dan bertanya: “Sudah makan hari ini?”

Tentu, masa-masa sulit tahun lalu mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai kehadiran dan pentingnya bersiap untuk kehilangan. Namun, dunia perlu lebih banyak manusia yang mau membangun empati sebagai fondasi kuat dalam diri sendiri. Di balik cuitan-cuitan yang selama ini kita anggap remeh, ada mereka yang butuh didengar dan butuh tempat bersandar karena tak tahu harus lari ke mana. Sekalipun bukan tugas kita untuk menyelesaikan permasalahan, ada banyak hal yang bisa kita lakukan selain hanya diam dan tak mengulurkan tangan.

Menilik bumi yang sepertinya butuh waktu lebih lama untuk kembali pulih, saya kira kita semua masih diuji di atas panggung keyakinan diri. Maka, untuk bisa tetap berdiri dan saling mengobati, saya harap empati selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemanusiaan kita di lubuk hati.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
IndiraAffan Syafiq Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Affan Syafiq
Guest

Kalau mengobati orang lain terus, kapan mengobati diri sendiri?

Indira
Guest
Indira

lebih banyak manusia yg tidak di minta membantu menyelasaikan tapi malah menyelesaikan.

Top