Cinta Bukan Jaksa Penuntut Umum

My mother once said to me there are two kinds of men you’ll meet. The first will give you the life you want and the second will give you the love you desire. If you’re one of the lucky few, you will find both in one person. But if you ever find yourself having to choose between the two, then always choose love.”—Lang Leav, The Universe of Us

Saat pertama kali membaca kutipan tersebut di umur 17 tahun, saya yang belum familier dengan cinta dan segala tetek bengeknya hanya bisa mengernyitkan dahi. Rasanya sisi rasional dalam diri saya menjerit untuk memunculkan pertanyaan: “Memang cinta sehebat itu, ya, sampai-sampai ia punya posisi yang lebih mulia dibanding kehidupan yang kita inginkan?”

Lalu saya tersadar bahwa sebenarnya saya tidak perlu berkelana jauh-jauh untuk mencari jawaban. Karena tanpa basa-basi teori, pertanyaan tersebut telah dijawab sejak bertahun-tahun lalu melalui perpisahan kedua orang tua saya yang banyak mengubah narasi saya dalam mendeskripsikan cinta. 

Hingga sekarang, saya tidak pernah melihat perceraian orang tua saya sebagai suatu tragedi karena kasih yang mereka alirkan kepada saya tak pernah terhenti. Meskipun keputusan Ayah dan Ibu menuntun saya jauh dari kehidupan yang saya inginkan, setidaknya cinta yang abadi mereka tanamkan mengajarkan saya bahwa beberapa garis takdir yang diperuntukkan kadang melewati garis lain yang bukan jalan; untuk memastikan barangkali ada pelajaran yang terlewatkan.

Dalam kacamata saya, Ayah dan Ibu tidak berperan sebagai pasangan yang sempurna. Namun, mereka selalu berusaha menjadi orang tua yang mampu mencintai anak-anaknya dengan cara sempurna. Dan dari mereka, saya paham betapa dahsyatnya kekuatan cinta di dunia yang serba tak adil.

Saat ini, saya pun tengah belajar untuk berhenti meragukan makna cinta yang sesungguhnya. Cinta yang sukarela tak akan singgah jika itu hanya soal memberi dan mendapatkan. Ia lebih besar dari itu, tidak terpisahkan dari perihal memberikan celah dalam setiap ruang mencintai dan menyisipkan penerimaan serta pelepasan.

Salah seorang teman saya pernah berkata: “Love isn’t always about give and take, Dhea. Kalau selalu tentang memberi dan mendapatkan itu namanya barter, bukan cinta.” 

Maka, saya  mulai memaknai cinta sebenar-benarnya sebagai sesuatu yang tak pernah menuntut apa pun. Ia bukan jaksa penuntut umum. Ia adalah jelmaan setiap rengkuhan erat kala terjebak dalam nestapa; tatapan teduh guna mengusir rasa rendah diri yang tak diundang kehadirannya; dan kecupan hangat pengganti kata yang kadang tak pernah cukup menggambarkan segala rasa.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top