Apa yang Ingin Kau Sampaikan kepada Mereka yang Masih Mencela karena Perbedaan?

Dari sekian banyak doa hangat Ibu yang saya sukai, satu yang paling lama bersemayam di benak saya adalah setiap kali Ibu membelai pucuk kepala saya dengan lembut sambil membisikkan: “Ya Tuhan, jadikanlah anakku manusia yang penuh kasih, selalu dibukakan mata hati dan pikirannya, tidak pernah lupa untuk berbuat baik kepada sesama, serta senantiasa memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.”

Tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang selalu merapal doa-doa seperti itu membuat saya heran melihat banyak orang dengan mudahnya meluncurkan kata benci yang tak berdasar dari bibir mereka dan masih bisa menjustifikasi diri–karena kalau saya yang begitu, sudah pasti tidak akan dibela oleh keluarga saya yang menjunjung tinggi nilai toleransi.

Saya pernah mempelajari suatu aliran dan gaya hidup melalui buku Zen: The Art of Simple Living (2019). Dalam buku tersebut, Shunmyō Masuno menjelaskan bahwa “three poisons” dalam kehidupan kita meliputi greed, anger, dan ignorance. Tiga watak tersebutlah yang menjadi hambatan kita dalam mencapai titik tertinggi dalam kehidupan, yaitu kedamaian. Berkat setiap keinginan untuk membenci dan tak peduli, manusia akan semakin rumit mencapai rasa damai. Berkat setiap keserakahan untuk menguasai dunia, manusia akan semakin jauh dari dunia yang penuh perdamaian.

Jadi, pertanyaan saya adalah bagaimana bisa manusia merasa tenang-tenang saja, padahal tahu dirinya telah membuat manusia lain tak tenang? Memangnya, apa yang dirasakan usai melontarkan dengki yang tidak diperlukan? Puaskah? Bahagiakah? Bukankah manusia tak perlu menuntut ilmu hingga ke negeri Cina terlebih dahulu untuk memahami cara dalam tidak menyakiti hati satu sama lainnya?

Bagi saya, perbedaan bukanlah perkara yang perlu diteriakkan dengan lantang. Ia bukan soal fisika yang terlampau sulit sampai-sampai tak punya penyelesaian sederhana. Ia hadir untuk melengkapi dan perlu disikapi layaknya kita merayakan kebiasaan sehari-hari. 

Dan yang perlu diingat, kita tidak akan pernah cukup besar untuk menghakimi entah itu secangkir kopi, teh, atau bahkan segelas susu. 

Karena ibarat sebuah titik hitam di atas selembar kertas putih, hanya sebesar itulah kita semua di mata Tuhan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top