“Saya cuma manusia biasa yang kebetulan bikin beberapa pilihan tepat,” kata Ali Ozyon ketika bercerita tentang dirinya. Dia membangun Hejaz–lembaga keuangan dengan berbagai layanan keuangan Islami–di garasi rumah bersama ayahnya. Ali berangkat dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan. Dimulai dari Australia, kini Hejaz punya beberapa kantor di negara, seperti Indonesia, China, Australia, Bahrain, dan United Kingdom.
Ali bilang, dia tidak punya waktu untuk mencintai diri. Menurutnya, memprioritaskan kesehatan mental adalah penghambat menuju kesuksesan. Tapi, setelah mendengarkan keseluruhan ceritanya, buat saya, Ali tetap mencintai dirinya sendiri, hanya saja dengan cara yang berbeda.
Silakan baca sendiri.
***
Bagaimana ceritanya ayahmu mendirikan Hejaz?
Ini topik yang kalau dibahas, bisa berjam-jam. Hahaha.
Ayah saya dulu polisi pas umur 18. Dua tahun jalan, lalu berhenti. Setelah itu keluarga kami–kakek nenek saya dan ayah–buka toko roti. Jalan sekitar tujuh tahun. Habis itu ayah berhenti lagi, jadi supir taksi. Lalu berhenti lagi, jadi supir truk.
Terus tahun 2007, kakek saya meninggal. Karena kakek saya itu yatim piatu, ayah punya mimpi: pengin bikin panti asuhan atas nama beliau. Tapi ya kami nggak punya uang. Ayah nggak punya modal untuk bikin panti asuhan. Jadi ayah mikir, “Gue harus bikin perusahaan yang bisa ngasilin duit cukup buat ngewujudin mimpi itu.” Dari kecil ayah emang jago angka. Jadi dia pengin balik ke dunia “angka” lagi, kayak investasi dan hal-hal semacam itu. Ayah akhirnya keluar dari kerjaan supir truk, jual truknya, dan ya … selama sepuluh tahun dia praktis nganggur.
Di periode itu, ayah balik sekolah. Ambil diploma, lanjut degree, terus ambil dua master dalam sepuluh tahun itu. Dan bayangin: sepuluh tahun, dia nggak punya penghasilan stabil. Kami nyaris nggak punya duit. Itu risiko besar, dan untungnya ibu saya percaya sama ayah–yang, jujur aja, nggak semua pasangan bisa tetep bertahan dan percaya ketika rumah nggak punya pemasukan. Pas perusahaan akhirnya dibuka, ayah masukin semua tabungan hidup ke situ. Ibu saya bahkan jual mahar, dowry, emas buat modalin perusahaan.
Banyak pengorbanan yang orang nggak lihat dari luar. Tapi ya, gitu kira-kira awalnya. Fast forward 12 tahun, sekarang kita ada di sini.
Dulu sebagai anak kecil, kamu lihat perjuangan ayah gimana?
Saya dekat banget sama ayah. Dari dulu, sekarang, dan kayaknya akan selalu begitu. Saya punya dua saudara: kakak laki-laki dan adik perempuan. Tapi saya yang paling dekat sama ayah. Dan lucunya, pas ayah mulai perjalanan ini sekitar 12 tahun lalu, di saat yang sama saya justru dikeluarin dari sekolah. Kejadiannya pertengahan tahun, jadi masih ada kira-kira enam bulan sekolah yang harusnya jalan. Ayah bilang, “Udah, kamu sekolah di rumah aja, bareng aku.” Jadi saya sama ayah itu bareng di garasi. Ayah belajar, saya ada di situ jadi semacam cheerleader-nya. Like, “Yeah, dad, we got this. Right?” I don’t know what’s going on. Cara ayah bikin saya merasa “ikut” dalam perjalanan ini juga kocak. Dia bilang, “Nanti pas kamu 18, aku beliin kamu Ferrari.”
Sampai sekarang saya masih nunggu Ferrari itu. Hahaha. Usia saya sudah 30, dua belas tahun udah lewat, Ferrari-nya belum ada. Tapi ya, namanya anak kecil, hal-hal material itu kelihatan wah banget. Di kepala saya waktu itu: “Oke, berarti kita bakal kaya. Kita semua bakal kaya. Kita bakal pensiun muda.” Itu motivasi saya saat itu. Dan sebagai anak, saya lihat banyak banget pengorbanan yang ayah jalani.

Waktu awal-awal perusahaan, kamu ngerjain apa?
Waktu saya umur 20-an awal, menjelang lulus kuliah, ayah sempat hire marketing manager. Dia kerja sekitar enam bulan, terus suatu hari dia ngomong langsung ke ayah: “Saya nggak lihat potensi di perusahaan ini.” Bukan seperti yang dia bayangkan, jadi dia resign. Bahkan dia bilang, “Kalau nanti sudah sampai titik tertentu, hubungi saya, saya balik lagi.” Arogan, kan? Ya udah, dia cabut. Ayah lalu lihat saya dan bilang, “Ali, kita butuh marketing manager.” Dia terus melirik saya, dan saya langsung mikir, “Hah?”
Saya nggak ngerti apa-apa soal marketing. Saya kuliah ekonomi dan finance, bukan marketing. Tapi ayah bilang, “Kamu bakal jadi marketing manager.” Dari situ lah semuanya dimulai. Kalau ditanya saya belajar marketing dari mana, jawabannya simpel: YouTube. Waktu teman-teman saya pergi party, clubbing, cari pacar, saya ngunci diri di kamar, kira-kira 6 sampai 8 bulan.
Karena kami nggak punya budget, saya juga harus belajar bikin website. Saya belajar bikin website. Saya harus belajar Photoshop, ya saya belajar Photoshop juga–semua dari YouTube. Semua saya mulai dari nol. Lucu juga sih, saya merasa belajar jauh lebih banyak dari YouTube daripada dari kuliah saya.
Sampai sekarang pun masih begitu. Saya masih self-taught. Saya nggak belajar dari kursus atau program tertentu, saya belajar sambil jalan. Dan menurut saya, cara belajar terbaik itu ya dilempar ke “deep end” dan bikin kesalahan. Dari kesalahan itu kita belajar paling banyak.
Saya bisa aja bilang ke tim saya, “Jangan kayak gitu ngerjainnya, nggak bakal berhasil.” Tapi orang kadang keras kepala. Ego masuk. Mereka tetap coba. Baru setelah gagal, mereka belajar. Ada pepatah: cara terbaik supaya anak nggak menyentuh kompor panas adalah … ya, dengan menyentuh kompor panas itu. Setelah itu, dia nggak akan sentuh-sentuh lagi.
Saya selalu bilang, bikin kesalahan itu nggak apa-apa. Sampai hari ini saya juga masih bikin kesalahan. Tapi itu cara saya belajar. Bertahun-tahun trial and error, belajar sendiri, dan tiba-tiba jadi marketing manager di umur 20. Itu perjalanan awal saya di perusahaan ini.
Waktu itu kamu terima tawaran ayah tanpa ragu? Emangnya kamu nggak punya mimpi sendiri?
Mimpi saya dulu pengin jadi pemain bola, kayak kebanyakan cowok. Semua orang pengin jadi pemain bola. Itu mimpi yang agak nggak realistis, apalagi buat saya yang tinggal di Australia, ketika sepak bola nggak se-hype itu. Mimpi kedua saya yang lebih realistis: saya pengin jadi tukang pipa (plumber). Emang bukan pekerjaan yang prestise, tapi realistis. Itu mimpi saya.
Tapi ayah ya jadi ayah pada umumnya aja. Dia bilang, “Nggak usah mikirin itu. Kamu masuk corporate aja. Aku bikin perusahaan ini buat masa depan kamu,” dan seterusnya. Sebagian orang mungkin mikir saya ini “anak papa banget”. Ya, saya dengerin ayah saya karena dia ayah saya. Dan saya bersyukur akhirnya jalannya jadi seperti ini.
Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi saat menjalankan usaha?
Tantangan terbesarnya? Ini tuh pertama kali untuk semuanya. Pertama kali ayah bikin perusahaan. Pertama kali saya pegang marketing. Pertama kali kami “hidup” dengan peran ini. Kita semua amatir di hidup. Kita semua belajar. Nggak ada mentornya.
Lagian nggak mungkin juga tiba-tiba Bill Gates dateng terus bilang, “Ini cara jalanin perusahaan, ini blueprint cara bangun tim.” Nggak ada. Semua yang kami lakukan itu first time. Semuanya kami pelajari sendiri. Dan itu tantangan terbesar, baik secara operasional maupun saat ekspansi perusahaan. Trial and error terus. Kadang kami mulai satu venture, enam bulan kemudian stop total dan pindah ke sesuatu yang lain. Staf pasti kesal. Tapi ya … nggak ada yang ngajarin. Kami jalan sambil meraba.
Banyak orang ngalamin ini. Banyak entrepreneur juga begitu. Apalagi sekarang, banyak anak muda pengin jadi entrepreneur dan belajar dari TikTok. Tapi masalahnya, nggak ada perjalanan yang sama. Alasan orang melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, ya karena latar belakang, alasan dan konteksnya beda. Jadi nggak ada pendekatan yang “cookie cutter”. Saya bisa kasih saran ke seseorang, tapi belum tentu cocok, karena perjalanan saya dan mereka beda total. Jadi kalo kamu masuk bisnis, tantangan terbesarmu ya itu: banyak hal bakal pertama kali. Ant that’s okay.
Bikin kesalahan aja. Tapi ya, harus belajar. Kalo kamu bikin kesalahan yang sama terus-terusan dan nggak belajar, ya itu namanya bodoh. Ada juga yang bilang itu “gila”: ngelakuin hal yang sama berulang-ulang tapi ngarep hasilnya beda. Belajar dari kesalahan, lalu lanjut jalan.

Katanya, to lead is to suffer. Relate nggak?
Buat saya, sebagai pemimpin, saya berusaha menyerap sebanyak mungkin tekanan dari “Big Boss”. Saya tampung semuanya yang bisa saya tampung supaya tim saya dapet pusingnya sesedikit mungkin. Saya selalu bilang ke tim: “Kalian fokus ke kerjaan kalian. Kalian lakuin tugas kalian. Biar saya yang berantem untuk hasil kerja kalian. Biar saya yang fight.”
Jadi jawaban saya: iya. Pemimpin itu harus menyerap rasa sakit, dan jangan sampai “tetesannya” tumpah ke tim. Begitu kamu mulai lempar tanggung jawab, lempar salah, lempar beban ke staf, di situlah kamu mulai kehilangan respek. Tim akan mulai merasa: “Dia nggak ada di gorong-gorong yang sama dengan kita,” “Dia dapat duit lebih,” “Dia yang dapat glory.” Saya berusaha jadi orang yang bilang: kita suffer bareng. “Biar saya yang urus Big Boss. Saya serap semampu saya. Kalian fokus ke tugas-tugas yang harus kalian fokuskan.”
Kalau harus menyerap tekanan terus, gimana kamu mencintai diri sendiri?
Pertanyaan bagus banget. Banyak orang bilang kita harus cinta diri dulu. Tapi saya justru nggak setuju sepenuhnya. Saya nggak setuju karena begitu kamu mulai fokus ke self love, menurut saya kamu bisa terdistraksi dari goal. Ini saya lho ya. Prioritas orang beda-beda. Ada orang yang santai, nyalain lilin, bilang “Ini waktuku untuk relaks.” Nggak masalah. Tapi buat saya, saat saya mulai fokus ke diri saya, fokus “melindungi inner peace” dan “melindungi mindset” bisa bikin sisi egois saya tumbuh. Saya jadi nggak mau ngadepin pusing-pusingnya kerjaan. Saya jadi pengin menjaga diri terus. Lama-lama, itu bisa jadi selfishness.
Mungkin banyak yang nggak setuju. Tapi saya sering lihat: manager yang selalu memprioritaskan dirinya duluan, yang self love duluan, justru lebih egois. Saya nggak punya waktu untuk itu. Kalo mau sukses, kalo mau melakukan hal yang orang lain nggak bisa lakukan, ya kamu harus melakukan hal-hal yang orang lain belum siap lakukan.
Apakah kamu seseorang yang religius?
Saya kurang setuju dengan istilah “religius”. Kadang kata itu seperti dibuat-buat hanya karena ada orang yang nggak menjalankan ibadah apa-apa.
Saya Muslim dan saya senang jadi Muslim.

Bagaimana agamamu membentuk dirimu sebagai seorang manusia?
Dalam hidup, nggak ada kuliah, degree, master yang ngajarin “cara jadi orang baik.” Kita nggak buka Google dan cari “diploma untuk jadi orang baik.”
Makanya agama itu hal yang fundamental.
Islam, atau agama-agama lainnya, ngajarin kita cara jadi orang baik, bagaimana memperlakukan orang, dan memanusiakan manusia. Itu yang saya dapat dari Islam.
Dan ya, kita semua bikin kesalahan. Kita semua pendosa. Kadang setan menang. Tapi kita tuh selalu berada di perang tarik-menarik itu dan sadar saat melakukan kesalahan. “Ini melanggar Islam, harusnya gue nggak gitu.”
Jadi Islam itu semacam guide book yang terus menjaga saya di jalur yang benar, atau kalo saya keluar jalur, saya balik ke dasarnya. Saya berusaha menjadi versi diri saya sebaik mungkin, dengan menjadi Muslim.
Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Di hidupmu, apa yang menjadi titik terendah?
Lowest point saya yang paling personal adalah ketika saya melihat kakek saya meninggal di depan mata saya. Kami tinggal bertetangga. Waktu itu kami dapat telepon dari kakak saya: “Kakek nggak enak badan.” Ayah saya lagi salat. Setelah selesai, dia menatap saya dan bilang, “Samperin gih. Kayaknya kakek kamu lagi sekarat.” Dia bilang itu secara literal. Saya juga nggak ngerti kenapa dia bisa memprediksi itu.
Saya lari, dan saya lihat kakek saya kena serangan jantung. Dia jatuh di dekat toilet. Ayah saya melakukan CPR. Saya masih ingat jelas, sejelas hari kemarin. Itu traumatis banget buat saya. Sampai sekarang, itu bikin saya takut kehilangan orang-orang di hidup saya. Saya nggak mau nenek saya meninggal, saya nggak mau ayah saya meninggal. Saya nggak mau menyaksikan itu lagi. Saya bahkan punya doa hampir tiap minggu: saya nggak mau menyaksikan anak saya meninggal. Saya nggak mau menyaksikan siapa pun meninggal. Segitu parahnya trauma itu mengacak-acak saya. Itu titik terendah hidup saya.
Bagaimana caramu menghadapi trauma itu?
Saya tipe orang yang suka sendirian. Bahkan pulang kerja, saya suka sendirian. Saya lebih nyaman menutup diri. Banyak orang bilang itu nggak bagus, apalagi pas lagi trauma. Mereka bilang, “sibukkan diri”, “jangan sendirian”, dan seterusnya.
Tapi buat saya, itu cuma distraksi dari akar masalah. Saya rasa setiap kita harus melewati proses berduka itu. Kita harus “bareng” sama trauma itu. Bareng sama putus cinta, bareng sama apa pun. Lewatin aja. Karena makin berproses di sana, kita memeluk rasa sakit itu, ketahanan kita makin tangguh. Nanti pas dateng rasa sakit berikutnya, kita nggak perlu cari distraksi. Tinggal kita hadapi.
Life sucks, right? Semua orang lewatin rasa sakit. Kalau hidup sampai 80 tahun, kita akan ngalamin macam-macam sakit. Nggak ada hidup yang sempurna.
Jadi cara saya menghadapi itu: tahan. Hadapi. Rasa sakit itu akan lewat. Mau seminggu, dua minggu, tiga bulan, nggak tau deh. Tapi akan lewat.
Saya hadapi saja, saya berduka, saya rasakan cemasnya, saya hidup bareng itu, dan lama-lama makin resilien. Itu cara saya. Saya percaya kalo waktu menyembuhkan segalanya.
Apa definisi Menjadi Manusia menurutmu?
Pertanyaan ini bisa dibawa ke mana-mana ya. Buat saya, menjadi manusia adalah menemukan alasan kenapa kita hidup.
Sekarang banyak anak muda pakai istilah “NPC” buat nyebut orang lain. Kita mulai manggil manusia “NPC”. Kenapa? Karena banyak orang hidupnya gitu-gitu aja setiap hari. Seolah nggak ada makna lagi. Manusia banyak, tapi dampak banyak orang itu kecil banget.
Jadi, “menjadi manusia” buat saya adalah menemukan purpose.
Apa purpose saya dan apa yang bikin saya merasa menjadi manusia? Saya selalu berusaha bikin hidup sebagai petualangan. Saya pengin punya sesuatu untuk ditunggu. Minggu depan saya mau ngapain? Bulan depan saya ada rencana apa? Saya suka rasa antisipasinya. Itu bikin saya punya emosi yang bikin saya merasa hidup. Kalo saya nggak punya sesuatu untuk dinantikan, saya cepat bosan, dan saya mulai merasa seperti NPC.
Jadi, menjadi manusia buat saya adalah punya hal yang kita cari, petualangan baru, dan tujuan yang jelas: jangka pendek, menengah, panjang.
Saya juga percaya, semua orang sebenarnya diberi kesempatan, tapi banyak yang nggak ambil. Bisa dari kerjaan sederhana, dari pertemanan, dari hubungan. Ambil aja kesempatannya. Kita nggak pernah tau itu akan membawa ke mana. Misalnya kamu supir taksi, terus ada yang tawarin kerja di pabrik, jangan langsung nolak dan bilang, “Ah, saya supir taksi.” Ambil dulu. Kamu nggak tahu siapa yang akan kamu temui. Ambil kesempatan. Berhenti ngulang hal yang sama terus. Ambil. Kamu hidup sekali.
Menurut saya, itu indahnya menjadi manusia.
Apa satu hal yang paling kamu syukuri dalam hidup?
Wah, sebenernya banyak hal yang saya syukuri. Tapi yang paling saya syukuri tuh orang tua saya masih mencintai saya. Kayaknya ini hal yang sering diremehkan. Ada banyak hal kecil yang kita anggap biasa, that we take granted for, dan baru terasa pentingnya saat udah hilang.
Saya bukan orang yang gampang bersyukur untuk hal-hal material. Saya lebih percaya bersyukur untuk hal yang benar-benar penting. Keluarga, orang tua, saya bersyukur keluarga masih utuh, saya masih ngobrol sama saudara-saudara saya. Banyak saudara kandung di luar sana yang bahkan sudah nggak saling ngobrol.
Saya juga bersyukur saya tinggal di tempat yang aman, keluarga saya aman. Dan saya bersyukur saya dikelilingi orang-orang baik, yang ketika saya lagi down, mereka datang dan ngasih bantuan.
***
Salah satu cara Ali mencintai diri bisa kita lihat dari cara dia menghadapi trauma. Dia duduk dengan dirinya sendiri, merasakan, mendengarkan, berproses di sana. Apa namanya itu kalau bukan mencintai diri sendiri?
Di hidup yang makin ke sini makin materialistis, Ali memilih menjadi sosok yang dengan hal fundamental yang membuatnya bersyukur: keluarga. Itu saja.