folder Filed in Cerpen, Sepasang, Yang Sekarang
Masih
Aku melihatmu meletakkan prasasti bukti adanya "kita" dalam sebuah tungku kayu,  kamu bersiap membakar, merelakan, melepas, menjadikannya abu lalu hilang dalam udara ruang.
Aldy Alfian comment 0 Comments access_time 1 min read

Malam itu, kita berdebat mengenai kelangsungan bunga yang kita tanam bersama. Apakah harus kita tetap rawat di tempat yang sama atau langsung saja kita cabut hingga ke akarnya, lalu jatuhkan pada aspal yang kasar tanpa sedikit sentuhan tanah.

Berulang kali ku katakan aku menyayangimu, namun belum cukup dapat membuatmu tinggal dan menetap. Senyum manis yang kamu berikan, namun berduri ungkapan yang kau lontarkan. Kamu mencabut hingga ke akar tangkai bunganya.

Aku melihatmu meletakkan prasasti bukti adanya “kita” dalam sebuah tungku kayu,  kamu bersiap membakar, merelakan, melepas, menjadikannya abu lalu hilang dalam udara ruang. Aku tak rela semudah itu semua dapat direlakan olehmu terhadap kita.

Wajahmu, mulai memudar menjadi warna-warna suram putih kehitaman. Wajahku, merasakan hujan turun, tadi aku merasa mendung, tapi tak ku sediakan payung sebelum air membasuhi wajah ini.

Yang ku tahu aku hanya menangis, tak bisa membuka mata dan hanya merasa sakit. Aku mendengarmu memanggil dan mencoba mengusap pelan pipiku.

Aku membuka mata.
Menatap langit gelap.
Aku di kamarmu malam itu.
Kamu menarikku dalam dekapmu.
Namun yang terasa hanya ketakutan dan sakit. Aku tak pernah ucapkan aku takut kehilanganmu. Aku pikir, aku sudah, di dalam mimpi itu.

Tapi di situ, malam itu, mimpi buruk itu, dapat menyadarkan bahwa walau mimpi, rasa sakitnya sangat terasa bahkan sampai aku terbangun.

Kamu memelukku erat. Menyadarkanku bahwa tadi hanya buah mimpi.
Aku masih memilikimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment