Pohon Mangga Itu Guruku

Sebelum mentari terbit sempurna, aku terjaga dari tidurku. Hasrat untuk tidur lagi tidak kuturuti. Aku bangkit berdiri, sedikit menguak, meregangkan badan, dan berjalan. Langkahku menuntunku berjalan ke beranda. Di situ aku duduk, diam, dan menikmati pagi. Aku menghirup napas dalam-dalam, berharap semesta mengisi diriku dengan dayanya. Aku berbisik kepada diriku dan kepada Dia “Syukur ya Tuhan atas kurnia-Mu, mohon penyertaan dan lindungan-Mu hari ini, perkenankanlah diriku memetik makna kehidupan.”

Sebelum beranjak, tiba-tiba mataku terpaku. Di ujung pandang, sebuah pohon mangga menarik perhatianku. Aku kembali duduk, diam, menarik napas dalam-dalam dan melihat pohon itu. Rantingnya melengkung karena berat buahnya. Daunnya hijau menyegarkan mata. Akarnya kokoh menancap ke tanah. “Seandainya kau bisa bicara apa yang ingin kaukatakan wahai pohon mangga?” Tanyaku padanya.

Tak kuduga dalam diamnya ia berbicara, tanpa kata, hanya makna. Buahnya melambangkan pemberian tulus dirinya. Ia tidak meminta banyak, cukup siraman air. Tapi buah yang lebat ia berikan dengan cuma-cuma untuk manusia. Ranting dan daunnya memberi tempat yang layak bagi burung-burung untuk singgah dan menyediakan keteduhan bagi lingkungan hidup manusia. Akarnya menancap ke tanah, menyerap air, dan memperkuat struktur tanah. Atas semua kebaikannya itu, pohon mangga tidak pernah sombong. Walau banyak memberi, ia tetap rendah hati. Dalam diamnya yang bagai seorang pertapa, pohon tidak mencari muka, ia tak pamrih, memberi dan hanya memberi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top