folder Filed in Adalah, Hidup, Perspektif, Puisi, Sepasang, Yang Akan, Yang Sekarang
Teruntuk Yang Kusebut Perempuan
Perempuan-ku, sudahkah kau terima undangan-ku? Sudah kusiapkan jamuannya; separuh hatiku.
Akhmad Idris comment 0 Comments access_time 1 min read

[1]

Jika Aku adalah Keluh,
Maukah kau mengulurkan tangan?
Mengusapnya,
Agar keluh itu tetap milikmu.

Jika aku adalah gaduh,
Sudikah kau membisikkan suara?
Lirih, berbisik:
“Gaduh atau melepuh bersamaku?”

Jika aku adalah riuh,
Relakah kau berdiam sejenak?

Menatapku,
Menyadarkanku,
Keluh, gaduh, riuh; itu Kamu.

 

[2]

Kulipat rindu menjadi sebuah kertas,
Kupanggil angin, lalu kutitipkan.
Kuramu rindu menjadi sebuah obat,
Kuundang senja, lalu kutitipkan.
Kutenun rindu menjadi sebuah kain,
Kubisiki bulan, lalu kutitipkan.
Kutitipkan rindu dari sini,
Sudahkah kau terima?

 

[3]

Perempuan-ku,
Sudahkah kau terima undangan-ku?
Sudah kusiapkan jamuannya;
Separuh hatiku.

 

[4]

Terbayang semu-mu
Menjadikanku pilu
Hancurkan saja rindu!
Menjadi abu

 

[5]

Kupandang mentari,
Yang tampak jemarimu menari.
Kudengar desiran angin,
Merasanya saja aku tak ingin.
Sial!
Kembalikan sepotong hatiku yang telah kau curi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment