Rindu Sepasang Kelopak Lazuardi

Sayang … apakah kau tahu?

Jiwaku sudah berlayar jauh

Namun baruku tersadar

Jika raga penyongsong tubuh ini  masih berada di samudera yang sama

Berputar dan terombang-ambing di tengah lautan kerinduan

 

Kau bisa lihat di sana

sulur-sulur kembang sepatu itu masih sama

Menggerogoti bata tua untuk menopang dahan-dahannya

Benar anindita …

Semuanya tak ada celah ketaksamaan

 

Di tanah ini kupandang berat penjuru barat

Kulihat senja sedang asyik menyapa 

Manusia kota yang hidupnya serba tertata

 

Gemerlap lampu kota masih menyala 

Roda-roda masih berputar di jalan raya

Lonceng-lonceng di menara balisika tetap bergemericik ria

Yogyakarta masih sama dengan kesan surganya

 

Hei, salah satu ciptaan Tuhan yang dilahirkan dengan sepasang kelopak lazuardi 

di bawah rindang kedua alisnya

aku masih di sini

Surup, melawan kikuk yang saling tubruk antara bising 

Sehari- hari dengan bayangan masa tua bersamamu nanti

 

Bangunlah sebentar kekasih, dengarkan bisikan alunan sajakku

Nikmatilah senja sore ini bersamaku

Berkeliling kota atau sekadar menyicip secangkir kopi hangat 

Asalkan dengan hadirmu

 

Keras dan derap

Bagaimana aku tak terluka 

Tajamnya perasaanku dibalas dengan kejamnya takdir semesta

 

Wahai putri mahligai

Merpati pun rapal mantra saat kau tak ada

Begitu juga aku yang pada dasarnya hanya seorang hamba 

 

Wahai pemilik alis rindang yang sering kupanggil sayang

Berbahagialah di taman Tuhan

Dan aku di sini akan berusaha mengobati luka kepergian

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top