Nasihat

“Sudah berapa kali aku katakan padamu, jauhkan pikiran-pikiran yang menyiksamu. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan, meratapi, mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.” Ia berhenti sejenak, menata duduknya, sedikit mendorong kursinya menjauhi meja. Ia menarik napas.

“Sederhananya begini, aku pernah baca, sesuatu yang tidak memengaruhi kehidupanmu lima tahun ke depan, tidak perlu dipikir lebih dari lima menit. Jangan buang waktumu dengan memikirkan masa depan, sedangkan kamu harus tetap bergerak saat ini. Gini ya, orang berpikir, dengan orang yang kebanyakan mikir itu beda! Catet itu,” tegasnya. Kemudian dia menghisap rokok di tangan kanannya.

Sambil mendongak ke langit-langit ruangan, ia mengembuskan asap rokok. Asap mengepul dari mulutnya, menggulung-gulung di bawah lampu ruangan. Diam sebentar, lalu mendekatkan kursinya lagi ke meja.

“Lihat dirimu, badanmu kurus, matamu sayu, rambut acak-acakan, berantakan sekali. Ayolah, kamu masih berusia delapan belas tahun Jean. Masa depanmu masih panjang. Jangan mau dihabisi oleh keadaan. Hadapi!” Dahinya mengernyit. Alisnya bahkan nyaris nyambung. Tatapannya tajam dengan benar-benar berharap bisa mengubah keadaan.

Ia melihat jam dinding yang digantung dekat lemari. “Sudah tengah malam, kau tidurlah. Lihatlah, betapa menyedihkannya dirimu. Mata merah dengan kantung mata yang hitam, istirahatlah dan ingat pesanku.” Ia menghisap rokok di tangan kanannya sekali lagi, lalu mematikannya dan membuangnya di asbak. Kemudian meletakkan cermin yang ia pegang di tangan kiri.

Ia mematikan lampu kamar. “Selamat tidur Jean.” Ia tertidur di atas kasur yang berantakan; sendirian.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top