Bagaimana Kita Seharusnya Takut

Di sebuah ruangan gelap, bias cahaya merapat di sela-sela tirai jendela kamar, bayangan asap dan nyala rokok terlihat kabur.

Tiba-tiba TV menyala.

Tayangan horor muncul.

Komentar bermunculan.

Sembari beberapa tampilan adegan menyeramkan muncul, ocehanku makin menjadi-jadi, mengkritik di setiap kali ada celah. Mengomentari suatu hal yang terus muncul berulang-ulang dalam narasi cerita seram menjadi begitu klise dan tertebak, bahkan murahan menurutku. Beberapa tips dan trik serta gimik cerita sudah bisa kubaca dan kutelaah sehingga yang tadinya mengandung unsur kejutan, sudah tidak lagi mengagetkanku. Strategi penceritaan seperti inilah yang membuatku muak. Kelatahan komoditas rasa takut inilah yang seakan mempermainkan akal sehatku untuk menerima sebuah cerita seram bukan sebagai misteri, tapi hanya sebatas nafsu manusia untuk terus ditakuti dan berusaha mengatasi rasa takut tersebut untuk terjebak lagi ke dalamnya.

Seperti itu dan akan terus seperti itu, terus-menerus. kemungkinan untuk melihat kegaiban sudah tidak lagi berguna, karena rasa takut sudah seakan memiliki standarnya sendiri. Setan-setan mempunyai standar untuk bisa dibilang mengerikan, pola-pola kedatangan mereka pun dibakukan dalam sebuah standar komersial industri. Mereka harus menangis, tertawa, berpakaian, terbang, berbicara sesuai apa yang sudah ditampilkan dalam layar dan penceritaan dari mulut ke mulut. Identitas mereka yang sebenarnya telah dibungkam dan dipermainkan seenak hati, eksistensi mereka hanya menjadi hal yang kacangan bagi konsumsi generasi penonton. Dan orang yang menceritakan tentang mereka pun berbuat seenak hati, menambah bumbu sana sini tanpa memedulikan perspektif dari dunia lain itu sendiri. Kelatahan yang terus berulang ini, itulah yang mengkhawatirkanku. Mereka selalu didakwa sebagai penggoda iman dan akal manusia, jadilah mereka seperti apa yang selalu diceritakan, menjadi sosok yang selalu kita takuti bersama, dalam penggambaran yang sama, dan pemikiran yang sama.

Begitu murah dan begitu muram cerita horor tersebut disajikan pada generasi mendatang. Hantu ataupun entitas ketakutan apa pun itu harus didikte menjadi komoditas rasa takut tanpa bebas menjadi diri sendiri. Identitas mereka diambang krisis, bahkan untuk tampak di hadapan manusia pun mereka harus menyesuaikan diri dengan apa yang dipikirkan dan diimajinasikan manusia tentang mereka.

Lampu mati. Terdengar bunyi pintu kamar berdecit terbuka perlahan. Angin menusuk bulu kuduk. Bau anyir mengalun lambat melewati ruangan. Keran air terbuka. Iringan musik menjadi intens. Subjek cerita berlari menghampiri ataupun bersembunyi, pun hasilnya tetap sama saja, selalu ada momen menunggu apa yang akan terjadi pada kegelapan sudut ruangan itu. Dan Boom! begitulah momen suspensi berubah menjadi momen kejutan, sosok yang tak tampak menjadi terealisasikan. Seperti itu dan seperti itu, terus seperti itu.

Tidakkah sudah waktunya bagi kita untuk mengatakan, “Cukup! Biarkan kami berpikir sendiri dan jangan ajari kami bagaimana caranya untuk menjadi takut dan merasakan ketakutan kami sendiri.”

Dan yang paling mengerikan adalah tidak ada hantu dalam cerita horor ini, tidak ada makhluk-makhluk aneh atau psikopat kurang kerjaan, bahkan tak ada darah ataupun latar mencekam pada umumnya. Yang sedang kusaksikan ini hanyalah serentetan hikayat pandemi dan kisruh kebijakan dalam polemik penyakit sosial, beserta penyakit alam yang menanti.

4.2 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nurvita
Nurvita
3 days ago

Keren ah!

Top