Tidak Semua Cinta dengan Bentuk yang Serupa

Baru saja selesai dengan urusan kantor dan segala bentuk rutinitasnya. Lega terasa karena mampu melepaskan beberapa hormon endorfin; setelah mencoret semua job list untuk hari ini. Hela napas panjang menjadi bukti yang jarang diungkit orang-orang bahwa kita benar adanya seorang manusia–yang pada suatu waktu berada dalam kondisi energi yang minim.

Beberapa orang memilih untuk bertatap muka lebih sering, bertukar cerita, bergosip, lalu berakhir dengan tawa dan canda yang akrab. Mereka mampu melakukan semua peran dengan baik; energi yang besar dan tiada habisnya. Entah kurang bersahabat atau tidak mengenal waktu, nongkrong pun tiada berhentinya. Sebuah pertanyaan muncul, “Bukankah kita sama-sama bekerja besok pagi-pagi sekali? Bukankah kita semua punya waktu yang sama dalam sehari?”

Sedangkan aku di sini, menarik diri dari lingkungan sosial; memilih untuk tenggelam dalam ruang sendiri di ruang isolasi–yang dari dulu kusebut kamar. Sadar diri bahwa eksistensiku tidak mencapai level tinggi orang-orang di luar sana. Terakhir kali saat me time di kafe, pemandangan yang kulihat malah menyesakkan dada. Sekumpulan pria yang asik dengan kopi dan mainan asap-asapan dari Vape, atau para wanita dengan deretan selfie untuk membuat posting-an rapi di media sosial. Semua saling menerima cinta dan berbahagia rasanya. Segera kutinggalkan tempat itu. Semakin malam, kopi yang kuteguk makin pahit saja.

Beberapa hari ini aku menyadari sesuatu–setelah refleksi diri pada momen-momen kecil yang berlalu. Mindset baru mulai bertumbuh–bahwa bahasa cinta tidak selalu diungkapkan dalam pertemuan yang akrab atau dalam waktu yang lama. Telepon dari bunda yang kita anggap mengganggu waktu rehat, padahal sekadar mengungkapkan rasa kangen dan memastikan kabar anak pertamanya yang masih kuat fisik dan batin; sapaan dari teman lama lewat media sosial yang sering kali kita abaikan; doa-doa yang dipanjatkan pengamen setelah memberinya beberapa koin uang–kita anggap hanya basa-basi belaka; ucapan terima kasih yang tulus dari pengemis di pinggir jalan–kita anggap angin lalu; atau suara-suara kucing di depan rumah yang mengemis meminta makanan sisa–kita anggap sebagai gangguan. Ada yang lebih parah: tanpa sadar, kesehatan yang kerap kali disepelekan merupakan salah satu bentuk cinta yang diberikan sang Pencipta. Sepatutnya kita membalasnya dengan beribadah atau senantiasa bersyukur atas nikmat yang selalu kita anggap ala kadarnya; juga berprasangka yang baik-baik saja.

Kadang memang kita berjalan terlampau angkuh. Menolak pemberian cinta dalam bentuk yang tidak sama–atau tidak menyadarinya. Biarkan orang lain menerima cinta menurut versi mereka. Karena aku dan kamu juga punya cara sendiri. Namun, jangan egois juga. Sebelum menerima cinta, cobalah untuk membagikan cinta lebih banyak.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top