folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Sekarang
Sebuah Lorong
Lalu engkau datang menggenggam tanganku. Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama. Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah, takutku takluk pada hadirmu.
Afif Abdalla comment 0 Comments access_time 1 min read

Aku berdiri di depan sebuah lorong
Panjang, gelap dan seakan tak berujung
Bulu kudukku bergidik ngeri
Tentang lorong itu dan apa yang ada di ujung sana

Lalu engkau datang menggenggam tanganku
Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama
Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah
Takutku takluk pada hadirmu

Lorong yang aku kira gelap, ternyata tidak segelap itu
Di dalamnya terang, entah karena dirimu atau bukan
Aku sangat menikmati celoteh dan tawamu
Memutarbalikkan semua tentang lorong itu dalam benakku

Lalu kita berhenti di mana aku bisa melihat sedikit ujungnya
Beristirahat katamu
Tapi genggamanmu lepas, ragamu perlahan menjauh
Lorong itu perlahan menggelap

Aku terduduk mendingin
Takutku menyerang namun sayup-sayup tawamu ku dengar
Terlihat terang sedikit, lalu kembali gelap saat suara lain menjawab tawamu
Aku tidak jadi bangkit dari dudukku

Teriakan kagummu tetiba ku dengar jelas
Sepertinya sudah kau temui ujung lorong itu
Aku berhasil melihat siluetmu dari tempatku duduk
Tapi bukan siluetku di sampingmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment