Sampai Jumpa Lagi

Hai, Ma.

Aku menulis ini tepat satu bulan setelah Mama pergi.

Rasanya baru mengedipkan mata hari Senin, tapi sudah hari Minggu saat mata terbuka. Waktu berlalu begitu cepat, memang. Tapi, di sela-selanya terasa kosong. Bahkan, rumah kosong saja masih ada penghuninya.

Rasanya seperti melewatkan satu anak tangga. Tersentak tapi mendarat dengan selamat. Tersandung tapi berhasil meraih pegangan, lalu tertinggal bergelantungan. Mengetuk-ngetuk pintu rumah yang sudah jelas-jelas tidak ada orangnya. Mengisi air di gelas yang retak. Mencoba menangkap angin dengan tangan kosong.

Adanya orang di sekitarku, banyaknya pesan masuk, paket kiriman, dan banyaknya pekerjaan yang semestinya bisa mendistraksi pun tidak bisa membuatku berhenti merasa kesepian.

Oh, itu dia terminnya. Kesepian.

Hal-hal kecil yang mengusik terasa sangat menyebalkan. Rasanya mau marah-marah sampai lempar kursi. Karena sekarang aku tidak punya tempat mengadu dan berkeluh kesah lagi. Setiap ada video lucu, tawaku langsung terhenti. Karena sekarang tidak ada tempat berbagi lagi.

“Aku kangen Mama,” bukan kalimat yang cukup mewakilkan untuk mengutarakan apa yang aku rasakan sebenarnya.

Kurang. Rasanya seperti ada yang kurang dan hilang.

Kurang menghabiskan waktu bersama sebelum Mama pergi. Masakan yang aku buat untuk Mama kurang enak dibanding makanan yang selama ini Mama masak untukku. Hadiah yang aku berikan untuk Mama kurang banyak. Kurang sering memberi tahu Mama kalau aku sayang sama Mama.

Hidup ini rasanya seperti dilempar-lempar, digantung, ditendang, diremukkan, diinjak-injak, lalu dibentuk seperti semula lagi. Sementara hanya untuk menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar makan dan mandi. Kemudian saat semuanya berakhir, semuanya kembali dibanting-banting.

Sekarang, aku harus lari ke siapa?

Tidak jarang leherku terasa sakit dan mataku terasa perih karena aku harus menahan tangis. Kalau aku menangis, nanti siapa yang jadi tempat bersandar? Siapa yang menguatkan? Siapa yang jadi paling bisa diandalkan untuk berpikir cepat dan logis di saat sulit ataupun mendesak? Menyebalkan sekali kalau aku harus membuat orang-orang merasa khawatir. Seakan-akan aku tidak peduli kalau semua orang sudah punya bebannya masing-masing.

Apa semua orang yang kehilangan merasakan hal yang sama?

Apa semua orang yang ditinggal pergi selamanya juga merasa tidak karuan karena harus menahan tangis?

Apa mereka juga berpikir kalau dunia ini tidak adil? Apa mereka juga marah? Bisa-bisanya orang-orang berlalu lalang di jalanan. Berboncengan sambil tertawa-tawa saat melewati karangan bunga yang ada di depan rumah. Bisa-bisanya orang-orang makan masakan ibunya saat merasa tidak enak badan, sedangkan aku sudah tidak bisa lagi. Bisa-bisanya orang-orang mau tinggal di luar rumah, sedangkan aku memohon-mohon pada semesta untuk bisa menghabiskan
waktu di rumah lebih lama lagi untuk menemani Mama.

Tapi, tidak boleh, ya? Tidak boleh mengeluh. Tidak boleh memikirkan hal-hal egois yang kekanak-kanakan. Karena yang mau menerima kekanak-kanakanku cuma Mama seorang. Bodoh sekali berharap orang lain ada yang mau memahami.

Kata banyak orang, nantinya aku pasti akan terbiasa hidup tanpa Mama. Nanti itu kapan? Berapa lama? Apakah bisa dihitung menggunakan rumus matematika paling rumit yang ada di dunia? Karena matematika dasar yang aku ketahui tidak bisa menghitung berapa lama sampai akhirnya aku bisa terbiasa.

Bagaimana bisa? Mama ada di setiap peralatan dapur yang sekarang aku gunakan untuk memasak. Di setiap karung tepung yang sudah Mama rencanakan mau dibuat menjadi kue apa. Di setiap serbuk detergen yang membersihkan pakaian yang melindungiku dari dinginnya angin malam dan teriknya panas yang membakar kulit. Mama ada di setiap anak tangga yang dilewati pagi-pagi untuk memasak air panas supaya aku tidak masuk angin setelah mandi pagi. Di setiap ubin yang pernah dilewati oleh petugas medis, membawa Mama bolak-balik dari rumah sakit. Diperiksa, diperiksa, diperiksa… tapi tidak kunjung diobati.

Kapan aku bisa berhenti menahan tangis dan sebenar-benarnya tersenyum saat mengingat Mama? Mengingat kalau sekarang Mama sudah bebas dari segala rupa sakit dan bertemu kembali dengan orang tua Mama. Kapan aku bisa berhenti marah? Marah terhadap orang-orang itu, yang gagal mengobati Mama seakan-akan mereka melakukannya setengah hati, yang bilang, “Tidak bisa,” padahal semuanya tersedia—hanya saja baru diberikan saat semuanya sudah
terlambat.

Kapan aku bisa bertemu Mama lagi?

Katanya aku akan kembali baik-baik saja seiring dengan berjalannya waktu. Kalau begitu, beri tahu aku caranya menghitung mundur. Karena jika dimulai dari angka satu, rasanya lama sekali.

Sambil menunggu, berjanjilah padaku kalau Mama akan hidup bahagia di sana. Jangan khawatirkan aku lagi. Jangan khawatir kalau aku belum sampai rumah, aku tidak apa-apa. Mungkin kendaraannya yang datang terlambat. Jangan khawatir kalau aku belum makan, aku tidak apa-apa. Seringnya aku masih merasa kenyang, sebentar lagi aku pasti makan. Jangan khawatir kalau aku tidak berbicara dengan siapa-siapa, aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya
butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri terlebih dahulu.

Berjanjilah Mama bersenang-senang di sana. Berjanjilah untuk melakukan hal-hal yang belum pernah mama coba lakukan di dunia. Berjanjilah untuk makan sepuas-puasnya di sana. Nonton dan berdansa selama mungkin. Semua hal yang membuat Mama bahagia yang tidak sempat kita lakukan bersama-sama di sini.

Dengan begitu, dengan bahagianya Mama di sana, mungkin aku bisa pelan-pelan berdamai dengan kehampaanku sendiri.

Sampai giliranku tiba, tunggu aku ya, Ma.

Nanti, jemput aku. Bawa kucing-kucing yang pernah kita rawat bersama.

Aku mau dipeluk lagi oleh Mama. Kemudian, kita bisa main kejar-kejaran bersama semua kucing sambil menentukan kucing mana yang harus potong kuku duluan.

Sambil menunggu waktu,

Sampai jumpa lagi, Mama.

Aku sayang Mama.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top