folder Filed in Adalah, Cerpen
Hujan di Siang Bolong
Kita tidak pernah tau apa-apa tentang kepala sendiri, apalagi pandangan orang lain? Bisa jadi koin yang kaubuang-buang itu adalah perkara hidup dan mati orang lain.
Adriani Putri comment 0 Comments access_time 4 min read

Apa yang kamu lihat pada jam 12 di siang bolong?

Saat matahari sering kita anggap sedang marah, atau neraka sedang bocor, mungkin? Pergi ke luar rumah menjadi suatu pertimbangan yang membuat kepala kita lebih nyut-nyutan daripada sakit gigi. Pakai baju kaos agar nyaman, tapi ke kantor. Pakai kemeja, panas. Pakai baju lengan panjang, gerah. Pakai baju lengan pendek, khawatir kanker kulit.

Oh! Tapi kamu tahu, kan, apa yang memperparah keadaan? Kemacetan!

“Siapa juga orang yang berada di jalanan siang bolong begitu? Bukannya semua orang sedang berada di dalam ruangan?”

Hmm… banyak. Seperti orang-orang yang harus pergi ke klien, mahasiswa dengan jadwal siang, dan supir-supir transportasi umum.

Pada saat kamu terjebak macet atau sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau sambil menghitung mundur dalam hati, apa yang kamu lihat? Helm supir di depanmu? Aspal yang berubah menjadi putih karena cahaya matahari? Instagram?

Bagaimana denganku? Kalau aku…

Biasanya aku celingak-celinguk seperti anak kecil yang tersesat di pasar swalayan sembari berharap lampu merah itu bisa bertahan beberapa hela napas lagi sebelum kendaraanku mulai melaju.

Dan, di dalam beberapa hela napas itu, aku bisa melihat.

Bapak tengah baya sedang mengelap keringatnya dengan handuk persegi panjang. Kemudian, handuk itu ia jadikan kalung yang menggantung malas di lehernya. Tangan beliau sibuk menyeimbangkan gerobak berwarna abu-abu mengkilap setinggi paha orang dewasa dengan sebongkah batu bata seukuran mangkuk ayam jago yang entah dia dapat dari mana.  Bukan hanya itu. Mataku terpusat pada mata beliau. Dua mata itu berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberikan buku cerita oleh ibunya. Oh? Sekarang anak-anak sudah jarang membaca buku cerita, katamu? Baiklah, biar aku ganti. Mata bapak itu berbinar seperti anak kecil yang diizinkan ibunya untuk nonton YouTube di hari sekolah. Sudut-sudut bibirnya kaku menahan senyum seperti anak SMA yang ditugaskan untuk kerja satu kelompok dengan gebetannya.

Baru saja aku menghela nafas sekali lagi, terdengar bunyi bel yang dulu pernah aku rindukan. Kamu pasti bisa menebak! Yesss, bel sekolah! Anak-anak berseragam putih-merah berhamburan keluar pagar, menyerobot, berlari, dorong-dorongan (tentu saja beberapa dari mereka terjatuh, namun mereka hanya tertawa dan berdiri lagi), kemudian mereka bergerombol mengelilingi bapak-bapak tadi. Tangan mereka menjulur ke arah bapak itu sambil menggenggam uang kertas berwarna abu-abu. Beberapa dari mereka menggenggam erat sekumpulan koin seakan-akan koin-koin itu adalah hidup mati mereka.

Namun, tidak banyak orang yang tahu atau sadar. Selembar kertas abu-abu dan koin-koin itu memanglah hidup dan mati bapak tersebut.

Kali ini senyumnya tidak dapat disembunyikan lagi. Aku bisa melihat deretan gigi yang tentu saja jauh dari visualisasi iklan-iklan pasta gigi. Perlu kamu ketahui, aku rasa matahari merasa tersaingi oleh cerahnya sinar yang dipancarkan oleh gigi si bapak.

“Satu-satu! Satu-satu! Kamu rasa ketan hitam kayak biasa, ya? Ini kacang hijau tidak ada yang mau? Wesss, si jagoan! Dua cokelat buat kamu sudah bapak siapin dari tadi. Biar nggak ada yang ambil.”

Satu per satu anak-anak itu mulai membelakangi bapak tadi dengan senyum yang tidak kalah manisnya dengan es krim potong yang sedang menggelitik bibir mereka. Sembari anak-anak itu pergi, bapak tadi menyusun rapi uang hasil jualan ke dalam dompetnya yang terlihat sudah lebih buluk dari rumah kosong.

“Cieee! Siapa, tuh, Pak?” ternyata masih ada satu pelanggan lagi.

“Ini? Istri saya, dong! Cakep, kan?”

“Kalau ini?” anak itu menunjuk entah apa di bagian dalam dompet si bapak.

“Ini? Ini anak saya. Lebih cakep lagi, kan?”

Tiba-tiba badanku terhuyung seperti plastik dan sesegera mungkin aku menegapkan punggungku kembali. Seusaha apapun kepalaku mencoba meniru kepala burung hantu, lambat laun wujud bapak itu mengecil dan hilang seperti tinta printer.

Sampailah aku di tujuan. Aku mengembalikan helm kepada bapak supir sambil tersenyum, “Makasih, pak.”

Saat aku hendak memasuki gerbang, aku melihat gerobak abu-abu serupa. Namun, orang-orang yang ada aku lihat sekarang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan tentunya, kalau didekati, mereka tidak bau matahari. Mereka pun tidak banyak bicara. Tidak sampai lima menit mereka keluar dari gerbang, mereka kembali masuk.

Laki-laki berambut putih yang duduk di belakang gerobak itu menatap kosong entah ke arah mana. Beliau pun tidak sadar kalau aku sudah berdiri di depannya.

“Pak?”

Mata bapak itu membelalak seperti ingkir.

“Eh, iya, Neng?”

“Es potong cokelatnya dua.”

Lagi. Saingan matahari bertambah hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment