Cita-Cita Baru

Dulu aku berharap aku bisa mati dalam tidurku. Saat aku sudah lelah menjalani hari yang panjang dan penuh masalah walaupun sudah kucoba hindari sebisa mungkin, aku tidur dan tidak bangun lagi.

Mau nanti aku tertidur setelah menangis, tertidur setelah mengeluh, atau bahkan mati rasa, setidaknya umurku berakhir sampai di situ. Dengan begitu, aku tidak perlu lagi bangun untuk berhadapan dengan masalah-masalah di kehidupan yang tidak kuminta, tidak kumulai, dan tidak kusebabkan.

Akhirnya aku bisa lepas dari semua masalah: omongan orang yang belum tentu benar bahkan dipelintir-pelintir, masalah keluarga yang bahkan sebenarnya tidak ada hubungannya denganku, masalah atasan-atasanku yang tiba-tiba jadi urusanku juga,  hingga masalah orang yang tidak aku kenal sama sekali di Internet tapi “harus” jadi masalahku juga. Kalau aku tidak ikut bersuara, katanya aku apatis, egois, skeptis, dan tis-tis lainnya. Padahal mengerti tentang permasalahannya saja tidak.

Di tengah hiruk pikuk kota yang memaksa orang untuk saling menyikut, mendorong, menginjak, dan tidak sedikit yang membunuh namun hanya sedikit kita ketahui, aku ingin beristirahat. Kalau bisa untuk selamanya. 

“Lho, memangnya kamu pikir kamu sudah siap mati? Setelah mati, masih ada ina-inu. Kamu hanya melarikan diri dari masalah untuk menyambut masalah lain yang lebih besar lagi!” kata orang-orang yang terdengar seakan peduli denganku.

Tapi kemudian mereka bilang, “Kamu ini egois! Memangnya kamu tidak memikirkan perasaan orang-orang yang ada di sekitar kamu? Apalagi kalau nanti arwah kamu gentayangan, nilai jual rumah kamu jadi turun.”

Hingga akhirnya, terucaplah kalimat yang membuat alergiku kambuh.

“Kamu ini masih mending! Masih ada banyak orang yang nasibnya lebih parah dari kamu!”

Ya, ya, ada benarnya–atau mungkin ada benarnya. Masalah apa yang akan terjadi setelah kita mati siapa yang tahu? Apakah ada yang nasibnya lebih parah dari aku? Itu juga mungkin.

Tapi, ah … nanti sajalah itu dipikirkan. Aku sudah terlalu capek untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. 

Maka naiklah aku ke atas sebuah gedung tua saat matahari hendak tidur dan akan bangun di belahan bumi yang lain. Dari luar terlihat atapnya bolong tanpa genteng, sepertinya lantai atas yang terbuka ini dulu dijadikan lahan untuk parkir. 

Bisa kubilang gedung itu cukup tinggi. Aku masuk melalui pintu kaca yang sudah jebol, lalu menaiki setiap anak tangga yang ada karena eskalator dan lift yang ada di gedung itu sudah tidak berfungsi lagi. Setiap aku melangkah, sol sepatuku menghembuskan debu dari samping. Kerikil sekecil kelereng berjatuhan dari sisi-sisi tangga tanpa railing.

Aku pikir aku sudah mati duluan sebelum sampai ke atap. Tangga yang kunaiki itu seperti tidak berujung dan penerangan sangat minim karena tidak ada listrik yang menyala. Namun setelah melewati setidaknya tujuh lantai, akhirnya aku sampai ke tujuan.

Apakah aku akan loncat dari ketinggian? Tentu saja tidak. Sudah kubilang yang aku mau adalah mati saat sedang tidur.

Rencana awalku adalah untuk tidur di atas atap sampai tidak bangun lagi. Tapi tiupan angin malam mendorong tubuhku untuk bersandar ke dinding pembatas setinggi pinggang yang menahanku supaya tidak jatuh. Dari pinggir gedung, aku bisa melihat orang-orang, kucing-kucing, lampu-lampu jalan yang masih belum menyala, dan segala benda yang ada di bawah sana terlihat seperti mainan kecil.

Awalnya aku memperhatikan seekor kucing yang berjalan di atas pagar. Dia berhenti, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia terjatuh ke samping. Aku pikir dia akan terhempas begitu saja ke aspal, tapi cakar-cakar kecilnya menggapai-gapai pagar dan dia terlihat seperti kucing yang sedang joget-joget di sebuah konser. 

Aku menggigit bibirku sendiri menyaksikannya. Otot pipiku seperti ditarik ke atas, tapi kulawan. Pada saat itu, satu lampu jalan dinyalakan.

Kemudian ada dua orang yang berpapasan. Mereka saling menyapa melambaikan tangan dan mengobrol sebentar. Setelah berbincang, mereka berdua malah berbalik badan dan berjalan ke arah mereka datang. Mereka pun berbalik lagi dan sama-sama menepuk jidat, melangkahkan kaki ke depan, dan saling menabrak satu sama lain. 

Tolol, pikirku. Aku mengenduskan tawa, tapi cepat-cepat menetralkan raut wajahku kembali. Di saat yang sama, matahari sudah hanya terlihat ujung kepalanya saja, dan dua lampu jalan dinyalakan.

Di tengah jalanan kota yang remang-remang, aku melihat ada seseorang yang sedang berjalan berdampingan bersama seekor kucing. Tiba-tiba kucing itu berhenti dan berusaha memanjat betis orang tersebut. Alih-alih menendang atau menggendong si kucing, orang itu berjongkok dan menepuk-nepuk bahunya, memberikan isyarat kepada si kucing untuk naik ke pundak.

Kucing itu berjalan ke belakang orang tersebut, memanjat punggungnya, lalu melompat melewati kepala orang itu dan sekarang berdiri di depannya. Si kucing mengeong. Aku kira si manusia akan kesal, tapi ternyata dia berdiri, melompati si kucing, dan kembali berjongkok lagi. Kucing itu menaiki punggung si manusia dan melompati kepalanya lagi. Dan sementara itu, lampu jalan menyala satu per satu, mengikuti irama lompat kodok mereka.

Tanpa kusadari, ternyata aku sudah tertawa dari tadi. Dan kali ini aku tidak menahannya lagi. Aku melepas tawa dan lampu-lampu di jalan menyala serentak. 

Ternyata, tertawa itu membuat tubuh rasanya ringan sekali, ya? Beban-beban yang selama ini dipikul seperti menguap ke udara, terbang bersama debu-debu tak kasat mata. 

Pantas saja banyak orang yang mencari bahan tertawaan, tidak sedikit caranya dengan menertawai orang lain. Mungkin dengan begitu mereka sedang mengobati luka hati dan ketidakdamaian pada diri mereka sendiri, merasa lebih baik setelah membanding-bandingkan diri dengan merendahkan orang lain supaya merasa lebih tinggi. 

Ada juga yang mencari bahan tertawaan dengan melihat video-video lucu. Mulai dari kucing joget, sketch comedy, atau menonton video seekor anjing yang sedang tertawa. Menularlah tawa si anjing saking lebar tawanya itu.

Atau seperti yang membuatku tertawa lepas tadi, yang bahkan tidak aku cari. Interaksi tak terduga antara dua makhluk yang berbeda dan bahkan tidak saling mengerti bahasa satu sama lain ternyata bisa memberikan kehangatan dari jarak yang begitu jauh. 

Jujur, setelah tertawa seperti itu, dan setelah sekian lama, aku bisa merasakan detak jantungku lagi. Seketika gedung tua yang tadinya terasa nyaman jadi begitu dingin. Aku segera turun dan pergi meninggalkan gedung tersebut. Di bawah lampu jalan, perutku berbunyi, meminta semangkuk sup kambing yang dijual dekat rumah.

Sepanjang jalan menuju tempat jualan sup, aku berpikir. Kenapa banyak sekali orang yang menghindari pembicaraan tentang kematian seakan kematian adalah hal yang kotor, jahat, nista, dan perlu dijauhi? Padahal dari semua ketidakpastian di hidup ini, mati adalah satu-satunya hal yang pasti, garis finish yang berlaku untuk apa pun jenis makhluk hidupnya.

Dan sekarang, aku punya impian baru. Untuk mencapai garis finish-ku, aku tidak lagi mau mati dalam keadaan tidur.

Aku mau mati karena terlalu banyak tertawa.

5 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top