Sore ini saya kembali beraktivitas setelah beberapa hari terpuruk karena dia. Saya kembali menjadi seorang perempuan yang sibuk. Pergi mencari inspirasi untuk menulis jadi pilihan sore ini.

Saya datang ke kedai kopi di kawasan Kemang. Dan duduk di sekitar orang-orang. Sesekali saya melihat ke depan, kiri, belakang, dan kanan. Orang-orang berlalu lalang. Pergi dan datang. Duduk kemudian menghilang.

Saat saya sedang mecari inspirasi, barista itu datang menghampiri saya. Dan melontarkan kata-kata yang membuat saya buyar.

“Tumben, Mbak, datang sendiri.”

Saya hanya mengangguk. Dan menanggapi ujaran barista itu dengan memesan dua cangkir kopi Aceh, menu favorit saya di kedai ini.

Kalimat yang diujarkan barista itu membuat hati saya sedikit terguncang. Dan mengingat dia kembali. Namun, saya mencoba menyibukkan diri lagi. Mencari inspirasi untuk saya tulis. Dengan mengamati suasana di kedai ini.

Sembari menunggu pesanan datang, saya memilih untuk membuka laptop. Walaupun belum ada inspirasi yang terlintas dalam otak.

Kedai kopi ini selalu jadi tempat favorit saya mencari ide-ide baru. Karena kedai ini tak pernah sepi pengunjung. Interior kedai kopi ini pun seringkali ikut bermain peran untuk menarik perhatian para tamu. Serta lampu gantung yang selalu menyala di dalam kedai kopi ini juga tak jarang ikut meramaikan suasana.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dua kopi Aceh yang saya pesan datang. Ada ritual yang seringkali saya lakukan sebelum meneguk kopi Aceh. Menghirup aromanya yang khas. Entah mengapa. Mungkin ritual ini dapat dijadikan hobi dalam hidup saya. Setelah menghirup aromanya, kemudian saya menyeruput kopi Aceh yang hangat ini. Nikmat. Rasa kopi Aceh yang khas kembali melekat di lidah saya. Tak terlalu pahit, juga tak manis. Saya bersyukur dapat menikmati rasa kopi Aceh ini lagi. Karena beberapa hari lalu, kopi yang membasahi mulut saya selalu saja berubah rasa. Mungkin karena…Ah, sudahlah. Lupakan.

Saya kembali mengamati suasana kedai sembari menyeruput kopi favorit saya. Dan berharap akan mendapatkan ide-ide baru untuk saya tulis. Menjatuhkan pandangan ke arah kanan, kiri, depan, dan segala penjuru di kedai ini saya lakukan berulang kali.

Di sisi kiri saya, ada lima orang lelaki yang sedang bermain karambol. Sembari tertawa lepas. Dan gembira. Layaknya tak ada beban dalam hidup mereka. Di sebelah kanan saya, ada sekelompok perempuan yang sedang asik berbincang. Sepertinya sedang menggunjingkan teman mereka. Tentu, yang tak hadir di meja bundar itu.

Di belakang saya, ada seorang lelaki sedang bermain gitar dan bernyanyi dengan temannya. Mungkin mereka menganggap suara mereka merdu. Padahal, membuat para tamu merasa terganggu. Dan tepat di depan saya, ada seorang pasangan yang sedang berbincang dengan tatapan serius. Mungkin mereka sedang merencanakan pernikahan.

Semakin malam, kedai kopi ini makin ramai. Pemilik kedai kopi dan ketiga barista yang berpakaian rapi sibuk mengolah kopi. Ada pula barista yang tak henti-henti berkeliling mencatat pesanan para tamunya.

Jam dinding yang berada di dalam kedai menunjukkan pukul 09.30 PM. Tak terasa malam semakin larut, orang-orang yang berada di sekitar saya kini telah pulang. Namun, saya tetap lanjut menulis.

Saat saya sedang sibuk menatap ke arah laptop, ada seorang laki-laki yang datang dan duduk di samping kiri saya. Entah siapa lelaki itu. Saya sedang fokus menulis dan jemari saya sedang menari di atas keyboard laptop.

Lelaki itu memesan menu yang sama dengan saya. Mungkin karena jenis kopi itu sangat favorit juga laris di kedai ini.

Saya menyeruput kopi kedua yang sedikit lagi akan habis. Setelah itu, saya memalingkan wajah ke arah kiri. Lelaki itu tersenyum kepada saya. Kopi nikmat yang ada di mulut saya, tiba-tiba berubah rasa jadi asin.

Otak saya dengan cepat mengulang kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat hidup saya tak manis lagi. Sejak hari itu, rasa kopi dalam mulut saya selalu berubah rasa. Tak manis, pahit ataupun gurih. Kopi yang saya teguk berubah rasa jadi asin. Kopi itu selalu teraduk dengan tetesan air mata saya.

Saya selalu mengingatnya. Karena dia telah melukai hati saya. Dia telah menyudahi hubungan kami. Dia memilih menjalin hubungan percintaan dengan laki-laki. Dan meninggalkan perempuan lemah seperti saya.

Tanpa sepatah kata pun, saya bergegas menutup laptop dan beranjak dari kedai kopi. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Tak ingin terpuruk lebih dalam lagi. Tak ingin kembali menangis. Karena dia, si lelaki penyuka penis.

Pertemuan dengannya malam ini,
membuat saya mengingatnya lagi
sejumlah kopi yang saya nikmati di kedai ini
berubah rasa kembali.
Sama, seperti saat ia menyakiti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment