Medusa dan Budaya Victim-Blaming yang Mendarah Daging

Ketika mendengar nama Medusa, apa yang kalian bayangkan? Di kepala kita akan muncul sosok monster wanita yang memburu manusia dengan mengubahnya menjadi batu. Sejak kecil saya telah mengenal dan menyukai kisah-kisah mitologi Yunani. Saya bertemu dengan serial video-game God of War dan serial buku Percy Jackson & The Heroes of Olympus oleh Rick Riordan, beberapa pop-culture yang berhasil menyulap cerita mitologi itu menjadi menarik untuk ditelaah. Namun, semakin dewasa, saya terus mencoba untuk memahami dari sudut pandang berbeda; mempelajari tiap-tiap cerita dan selalu menemukan refleksi baru, seperti yang saya temukan dari kisah Medusa.

Medusa adalah pengawal setia Athena, dewi kebijaksanaan. Mata dan rambutnya yang indah mampu membuat siapa saja jatuh cinta seketika. Meski ia serbabisa dan memiliki paras yang cantik, Medusa merupakan sosok pemalu dan tidak pernah mau menyombongkan segala kelebihan yang dimilikinya. Bersama dengan saudari-saudarinya, ia sepenuhnya mengabdikan diri pada Athena. Setiap hari, ketika saudari-saudarinya berburu, Medusa menjaga kuil suci Athena. Ia menunggu di pinggir kolam kecil di depan kuil suci tersebut. Merasa matahari menyetrika tubuhnya, ia berpikir untuk berenang dan menikmati air sebentar. 

Medusa melucuti pakaian dan segera menceburkan diri. Waktu berlalu dan saat Medusa beranjak keluar dari kolam, ia melihat sosok lelaki tegap dari arah kuil—Poseidon, dewa penguasa laut. Karena sedang tidak memakai busana, Medusa tampak panik, canggung & mematung. Poseidon berjalan ke arah Medusa dan memerkosanya. Athena melihat kejadian tersebut dan segera memunculkan diri di hadapan mereka. Alih-alih melindungi Medusa, Athena murka kepada Medusa dan merasa terhina karena ia bersetubuh di kuil suci milik Athena. Athena mengasingkan Medusa ke sebuah gua kecil dan mengutuknya menjadi monster—rambutnya yang indah berubah menjadi ular-ular berdesis dan bagi siapa saja yang melihat mata Medusa, mereka akan seketika berubah menjadi batu. Medusa adalah korban, tetapi bukannya dibela, ia malah disalahkan.

Belakangan ini, budaya menyalahkan korban kerap bermunculan—terutama pada kasus-kasus pelecehan seksual. Victim-blaming adalah fenomena yang terjadi ketika kita malah menyalahkan penyintas kekerasan, alih-alih pelakunya. Orang-orang yang melakukan victim-blaming memiliki kecenderungan memihak dan mendengarkan cerita para pelaku dibanding korban. Dalam kasus pelecehan seksual, orang-orang akan menuduh bahwa para korban bertanggung jawab atas kekerasan seksual yang dialaminya. Misal, mereka menyalahkan perempuan yang pulang malam atau mengenakan rok pendek. Padahal, bagaimanapun juga, korban ialah korban. Mereka mestinya dilindungi.

Pada 2017, ada sebuah kasus tentang pelecehan seksual yang terjadi di lokasi KKN mahasiswa UGM di Maluku. Seorang mahasiswi, Agni, menjadi korban dari kasus pelecehan seksual oleh rekannya sendiri. Ia kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kampus. Meski pelaku diberhentikan dari program KKN tersebut, Agni malah menjadi korban victim-blaming oleh pengelola KKN karena dianggap bertindak ceroboh dan berkata bahwa peristiwa perkosaan itu telah membuat malu nama UGM di depan publik. Ditambah lagi, beberapa pernyataan dari dosen dan pihak kampus justru menyudutkan posisi Agni sebagai korban, “Seandainya kamu tidak menginap di sana, peristiwa itu tidak akan terjadi” dan “… Ibarat kucing kalau diberi ikan asin pasti setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan.”

Kasus tersebut merupakan sebagian kecil dari banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual di Indonesia. Budaya menyalahkan korban yang mendarah daging membuat para penyintas atau korban takut melaporkan kasus yang dialami. Mereka khawatir dianggap merusak nama baik keluarga atau lembaga dan dicap buruk. Tidak sedikit dari mereka yang justru dikriminalisasi. Alih-alih menemukan keadilan, mereka malah semakin dalam menyelam ke jurang trauma. Agni adalah Medusa; para petinggi yang menyalahkan Agni ialah wujud nyata Athena yang berlindung di balik jabatan tinggi yang justru bertindak seenak jidat mereka. Para pelaku hanya mendapatkan hukuman yang tidak seberapa dan tidak menutup kemungkinan akan kembali melakukan aksi bejatnya. Cerita Medusa di atas tidak berhenti sampai di sana. Athena mengutus dan memberikan misi kepada seorang prajurit, Perseus, untuk membunuh Medusa dengan memenggal kepalanya. Ini membuktikan bahwa Athena dan para pelaku victim-blaming memiliki kecenderungan manipulatif untuk terus menindas para korban.

Cerita dan kasus di atas bisa menjadi momentum kita semua untuk kembali mengingat dan memosisikan diri ketika menghadapi kejadian serupa. Kita sebagai masyarakat mesti tetap melihat korban sebagai korban. Medusa adalah contoh propaganda yang berhasil menyudutkan korban dan menjadikan ia sebagai monster jahat yang memburu manusia. Tugas kita sekarang adalah untuk menjaga agar di sekitar kita tidak ada lagi Medusa (serta Perseus), dan tidak menjadi Athena yang semena-mena menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi keadaan dan mental korban. Cara kita melawan budaya victim-blaming adalah dengan tetap mendukung korban atau penyintas, setiap saat, tidak hanya ketika kejadian tersebut ramai dibicarakan publik.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top