Masalahnya, Bukan Cuma Tukang Martabak yang Bisa Mengalami Depresi

“Kamu tuh cantik. Kamu tuh model, tinggi, seksi iya, pinter iya. Kalau kamu depresi, kamu tuh menghina tukang martabak yang jualan di depan rumah saya,” ujar seorang juri pria di suatu ajang pencarian bakat modeling ketika salah satu peserta mengatakan kalau ia pernah mengalami depresi dan eating disorder. Seorang juri perempuan di sebelahnya menimpali, “Saya suka banget makan, jadi saya eating disorder kali ya?” Kedua juri tertawa dan kerap menyanggah segala alasan yang diungkapkan oleh peserta tersebut hingga ia berujung menyalahkan diri sendiri, “Mungkin akunya aja yang kurang kuat pada waktu itu.” Pertanyaan saya setelah mendengar komentar tersebut adalah: apa hubungannya depresi dengan menghina tukang martabak?

Saya cukup terganggu dengan pernyataan-pernyataan dari kedua juri tersebut. Pertama, itu menggeneralisasi keadaan seolah-olah hanya orang-orang dengan pekerjaan tertentu yang bisa mengalami depresi. Padahal gangguan kejiwaan bisa menyerang siapa saja: kaya, miskin, cantik, tua, atau religius— tidak peduli dan tidak ada hubungannya dengan status sosial atau ekonomi. Kedua, itu juga memberikan stigma buruk kepada penyintas gangguan kejiwaan yang membuat mereka kesulitan untuk bisa pulih. Mereka yang memiliki gangguan kejiwaan melalui banyak sekali hambatan dalam hidupnya yang kita tidak pernah ketahui. Untuk mereka mampu bercerita saja adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Jika kita sibuk menghakimi dan menyangkal apa yang mereka alami, rasanya kita cuma memperburuk keadaan saja. 

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) dengan gejala ringan hingga berbahaya yang mampu memengaruhi perasaan, pikiran, dan mengganggu kegiatan kita sehari-hari: seperti tidur, makan, atau bahkan bekerja. Menurut WHO, sekitar 264 juta jiwa yang mengalami depresi berasal dari berbagai macam usia, jenis kelamin, dan latar belakang. Mereka yang mengalami depresi tidak mampu berfungsi dengan baik bahkan untuk melakukan hal-hal sehari-hari, cenderung kehilangan kontrol akan diri sendiri, dan juga dapat mengarah atau menumbuhkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Melihat depresi adalah penyebab utama beban penyakit dunia secara keseluruhan, tidak sebaiknya kita menyepelekan mereka yang mengalami depresi. Menghakimi dan mempermalukan mereka adalah langkah awal yang mesti kita hindari bersama.

Masalahnya, bukan cuma tukang martabak yang bisa mengalami depresi karena tiap-tiap dari kita mencintai dan bersedih dengan caranya masing-masing; tiap-tiap dari kita juga memiliki kapasitas mental yang berbeda-beda. Jika dua orang sedang menghadapi masalah yang sama, tetapi satu di antaranya merespons dengan cara yang berbeda serta membuahkan hasil yang tidak sama, bukan berarti ia lemah dan apa yang ia rasakan tidak absah; bukan berarti depresi yang dialami orang tersebut tidak nyata hanya karena diri kita tidak mengalaminya. Saya rasa kita mesti berhenti membanding-bandingkan masalah setiap orang dan mulai lebih peka kepada sekitar agar tidak terjadi lagi komentar dan pernyataan yang merugikan orang lain seperti pada acara TV tersebut. Kita juga mesti sama-sama belajar memahami kesehatan mental sebagai satu aspek yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Sebab, tidak akan ada kesehatan tanpa adanya kesehatan jiwa.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika ada orang yang mengalami depresi? Bantu. Kemudian timbul pertanyaan lagi: Tapi kan sekarang banyak tuh orang-orang yang ngaku-ngaku depresi atau memiliki gangguan kejiwaan, kita harus gimana dong? Jawaban saya akan tetap sama, bantu mereka; dengarkan mereka; dan perlahan ajak mereka ke profesional. Benar atau tidaknya dia mengalami depresi, yang bisa kita lakukan sebagai support system adalah tetap membantu mereka. Toh, kalau mereka ternyata berbohong, tidak ada ruginya bagi kita, karena niat kita memang membantu. Namun, kalau kita tidak membantu mereka, lantas terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukankah kita juga yang akan merasa bersalah karena tidak menolong mereka?

Jadi, jangan ada lagi tukang martabak di antara kita ketika membahas kesehatan mental, tapi bolehlah kita beli martabaknya dan makan bareng sambil ngobrolin kesehatan mental, oke?

Bacaan lebih lanjut:

  1. The Nature of Clinical Depression: Symptoms, Syndromes, and Behavior Analysis
  2. WHO takes on Depression
  3. Global, regional, and national incidence, prevalence, and years lived with disability for 354 diseases and injuries for 195 countries and territories, 1990–2017: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2017. The Lancet. DOI.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top