Apa yang Biasa Kamu Lakukan Sebelum Membuat Keputusan Besar dalam Hidup?

Kalau saya adalah karakter utama dalam sebuah video game, maka “risiko” adalah senjata pamungkas yang saya lewatkan dalam perjalanan menuju “pengambilan keputusan”, raja terakhir. Bagaimana saya bisa melawan musuh tersebut, kalau saya melewatkan salah satu senjata yang diciptakan untuk melawanya? Celakanya lagi, kelengahan saya akan senjata tersebut adalah hal yang disengaja, karena saya tidak mampu bertanggung jawab atas risiko dari keputusan-keputusan yang saya ambil.

Kalau saya tarik mundur dan menghitung berapa kesempatan yang saya lewatkan karena tidak berani mengambil risiko, jumlahnya seperti slogan di pariwara Tango: Berapa lapis? Ratusan. Lebih! Dari mulai menyia-nyiakan kesempatan kuliah ke luar negeri, sampai tidak berani meluapkan perasaan saya kepada seseorang oleh sebab ribuan ketakutan yang membelenggu di kepala. Akhirnya ia sekarang telah bahagia menikah dan sedang menanti anak pertamanya. Apakah saya menyesal? Pada saat itu, tentu saja. Namun sekarang mau tidak mau saya mesti menjadikan hal tersebut sebagai bahan pembelajaran. Sebab, pepatah bilang, hanya seekor keledai untuk jatuh ke lubang yang sama dua kali. Walaupun saya yakin kalau keledai tidak sebodoh itu.

Kalau saya boleh sok pintar, belakangan ini saya banyak belajar tentang Bias Kognitif, yaitu sebuah kesalahan dalam berpikir dan kekeliruan tentang perasaan kita yang menyebabkan kita mengambil keputusan dengan tidak rasional. Seperti bagaimana orang lain mampu memengaruhi pilihan dan perilaku kita, bagaimana kita cenderung keliru tentang perasaan kita di masa depan, hingga bagaimana kita kerap memercayai apa pun yang nyaman untuk kita percaya. Apakah mempelajari itu semua membuat saya mahir dalam pengambilan keputusan? Tidak juga. Sisi baiknya saya jadi lebih paham bahwa terkadang keputusan-keputsan yang saya ambil selama ini tidak rasional karena kekeliruan cara berpikir saya. Sisi buruknya saya makin pusing dalam menentukan keputusan. Alih-alih menjadi ahli, saya malah terlalu banyak berpikir sebelum mengambil keputusan, saya kerap bertanya ke diri sendiri: Apakah keputusan ini saya tepat? Apakah keputusan yang saya ambil ini bias?

Kalau saya sekarang ditanya tentang cara terbaik dalam membuat keputusan terbesar, jawabannya adalah dengan memahami dan meresapi risiko terburuk yang saya akan dapatkan dari keputusan tersebut. Kalau saya sudah paham akan risiko terburuk dan saya merasa mampu menerima risiko tersebut—seperti anak-anak zaman sekarang bilang: gaskeun lah!

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Yeka Aditia Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Yeka Aditia
Guest
Yeka Aditia

Berdoa kepada Tuhan

Top