Untuk Halo yang Lain di Suatu Masa

Halo,

Kamu mungkin lupa, tapi sadarmu harusnya sudah terjaga jauh ketika satu sapaan paling sederhana itu mulai memekikkan harimu, seperti senjata yang lekas ditekan pelatuknya; seperti ibu yang sudi menjadi bekermu di pagi buta. Bagaimana hari-harimu? Kamu masih membual kenapa Nietzsche mencetuskan “Tuhan sudah mati” sedangkan ia masih menggunakan kata Tuhan di dalamnya. Barangkali pula, kamu masih berharap Albert Camus tidak mati semuda itu, bahkan untuk alasan nasib yang paling tidak filosofis jika membedah betapa rebel-nya ia akan kehidupan. Mungkin kamu masih berharap Sartre dan Simone menikah, kelak tak ada yang melantangkan orang lain adalah neraka, sebab cinta adalah air yang memadamkan di antara keduanya.

Bagaimana dengan arsip-arsip tulisanmu yang belum sempat kamu lanjutkan? Memang, kamu tidak cukup tahu mengapa kamu menulis, kamu mengira itu sebagai suatu kepercayaan, seperti seorang penjahat, yang sedang memimpin komplotan lainnya. Sehingga membuat kamu sangat yakin kamu dapat menulis banyak hal. Nyatanya hingga hari ini, hanya segelintir yang berani kauunggah atau terbitkan; culun ya kamu. Dahulu, kamu sangat membanggakan orang-orang di sekitarmu, mereka hebat katamu, punya jalan ninjanya masing-masing. Sedangkan kamu hanya punya sebatas kata, orang banyak bilang tak ada formula yang menjamin bahwa itu akan berjalan dengan baik, apalagi cuma mengandalkan tulisan. Che Guevara mengungkapkan “Kata-kata indah, tetapi tindakan adalah yang tertinggi.” Bukankah Eka Kurniawan pernah bilang menjadi penulis itu menyakitkan? Belum sadar, ya?

Beranjak dewasa, orang-orang sekelilingmu perlahan banyak yang pergi. Penyebabnya tentu saja dirimu sendiri. Pernahkah kamu bertanya, apa harga yang paling pantas untuk sebuah kehilangan? Dan mengapa waktu begitu pesat membawa dirimu jauh melupakan hal itu? Lalu, suatu hari kamu menyadari dan menyalahkan dirimu, sebab kepergian dan kehilangan orang sekitarmu, baik secara harfiah atau alegori, juga ada bagian andil dari cara waktu memangkas itu. Dan sialnya kamu ikut serta di dalamnya.

Kamu sudah di mana sekarang? Masih berkutat di meja centang-perenang kantormu ya? Dengan begitu banyak konsep desain yang telah kaupikir matang-matang, namun dalam realisasinya, kamu kadang merasa selalu ada kekurangan. Lagi-lagi, kamu membual karena kurang mahir dalam membentuk bulatan atau kotak yang paling paripurna dalam setiap lembar kerja desainmu.

Apakah kamu masih mudah untuk membangkitkan jiwa anak kecilmu? Ia sudah terlalu lama bermukim tanpa sapaan. Mungkin pingsan, atau mati tanpa sarapan. Jiwa anak kecil itu macam tumbuhan semak belukar di tebing yang menawan. Rimbun, bervegetasi runyam, penuh bahaya, tapi adalah hal menyenangkan jika kamu membangunkannya. Dan di dalamnya, rasa penasaran adalah salah satu jiwa yang kamu tunggu sekian lama. Ia serupa angsa betina yang kelak merindukan pasangannya saat melekukkan kedua leher dan kepala mereka, membentuk guratan hati. Sayangnya angsa jantan mati karena sebab tak tertanggungkan. Bagaimana, sudah bisa kauhidupkan jiwa itu, atau memang betul-betul sudah mati sebab sibuknya kamu mengurus masa dewasamu kini?

Surat ini tampaknya tidak bertopik dan terpenggal-penggal. Sama seperti kamu hari ini. Mimpimu yang galak itu hampir mati. Harusnya, pada umur-umur yang matang ini, ia nyalak nan nyaring. Kalau ia binatang, harusnya ia singa buas penuh taring. Jadi, dengan kulayangkan surat ini padamu, semoga kau dapat menyadarinya untuk menggunakan setiap waktu yang tersisa, melakukan aktivitas yang baik bagi sekitar, menghidupkan rasa penasaranmu dari jiwa yang terbengkalai nun jauh di sana, mengekplorasi nilai-nilai kehidupan dengan bermodalkan rasa itu. Dan juga, menyalakan lagi tombol harapan, yang sudah lama tak pernah kaupencet itu. Kuulangi sebagai epilog, tak usah kausalahkan lagi dirimu pada setiap momen (sebab tak semuanya gagal dan salah), menurutku kau sudah melakukan yang terbaik dalam interpretasimu sebagai manusia. Semoga kau masih waras saat awal surat ini dibuat dan seterus-terusnya.

Dari bocah yang rindu rupa riangmu.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Andiinafz Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Andiinafz
Guest
Andiinafz

Senang bisa membacanya sangat senang terima kasih sudah menulis ini 🤗

Top