Sepertiga malam katanya waktu yang paling hening untuk kita merapal doa-doa. Segala apa yang dipanjatkan mujarab ke hadirat-Nya. Malam yang tunduk di keheningan. Menghapus kesalahan dan memaafkan. Kita relakan yang fana. Suasananya persis seperti lirik tersebut di lagu “Alunan Temu” oleh Bilal Indrajaya, Hindia, & Isyana Sarasvati.
Tapi apa daya, kita kerap kalah dengan rasa kantuk yang menjadi-jadi. Sepertiga malam, hanya dalam hitungan jari, dilakukan dalam sebulan. Tapi bukannya Tuhan Maha Baik seperti yang dikisahkan para pengkhotbah? Selalu ada alternatif waktu untuk bermunajat kepada-Nya.
Biarpun sudah semudah itu, lagi-lagi kita kalah dengan urusan dunia. Langkah kita selalu fokus mengejar cita-cita. Ruang untuk berdialog dengan-Nya terlalu rentan untuk dilewati begitu saja. Kurang menjanjikan ganjaran langsung. Pujian misalnya. Kita kecanduan validasi.
Riuh kehidupan di perkotaan. Tipikal. Begitu adanya kita terbentuk. Serba melaju dengan segala keinginan apa yang ada di kepala, tapi hati belum tentu. Sering diabaikan panggilannya. Beruntunglah kalian yang sampai saat ini istikamah menghadap dan bersujud kepada-Nya walau penuh risiko. Musala di perkantoran, di stasiun kereta, hingga masjid-masjid di pinggir jalan yang terlewat dengan laju kendaraan kita tak pernah menutup pintunya, walau hanya di bagian teras.
Lantainya pun terasa begitu dingin. Adem istilahnya. Saat itu juga syaraf-syaraf kita begitu rileks. Tak jarang banyak yang tertidur. Entah bermimpi apa. Mungkin cita-cita yang kandas, atau pun urusan yang belum selesai. Bahkan sampai bunga mimpi yang begitu wangi untuk membuat dirinya mencintai dunia kembali.
Sayangnya, selalu ada imbauan di tembok-tembok. “Dilarang Tidur!” begitu isi tulisannya. Seolah jalinannya dipaksa untuk putus hubungan. Lantas kita pun bergegas. Terjun kembali ke dalam keriuhan. Tetap dengan doa kita berlari bergabung dengan realitas kehidupan dan kecemasan. Dan “ujiannya” dimulai lagi. Nasib mulai diadu-adu. Bagi yang eling, ia akan kembali dengan penuh rasa rindu. Bagi yang kebablasan, ia akan dilanda dengan deru kerasnya kehidupan yang seolah menuntut terlalu banyak. Hingga tak ada rasa cukup untuk menaklukkan. Ia kian tumbuh subur dalam diri.
Seharusnya, tidak ada suatu apa pun yang jadi pembenaran kita untuk berhenti sejenak menghadap-Mu. Karena perjalinannya harus tumbuh ke dalam. Bukan di situ-situ saja. Atau malah tercerabut kedalaman batinnya.
Walau sedikit demi sedikit. Seiring tumbuhnya keyakinan yang kita yakini masing-masing. Layaknya perjalanan para sufi yang kita teladani. Sulit banget rasanya. Jangankan rindu, sedikit mengingat pun juga tidak. Butuh pemantik. Apa pun bentuknya itu, kita akan selalu dapat hingga kita merasakan benar adanya rasa rindu untuk bertemu kembali. Kita cari tau sendiri. Sebab hanya kita yang tau bagaimana memulai jalinannya kembali.
Pernahkah kita merasa bahwa rindu itu selalu terasa begitu syahdu? Jauh di relung kalbu. Biarpun harus dikorek-korek terlebih dahulu. Pertemuan dengan-Mu adalah hal yang kini dituju. Apalagi di bulan Ramadan. Biarpun saat ini suasananya mulai pudar dengan hingar-bingar kota yang semakin menjadi-jadi.
Maka, kesempatan yang ada untuk mencurahkan semua isi hati harus benar-benar dihayati. Seluruhnya. Jiwa raga ini. Hanya mampu diutarakan kepada-Mu. Usai semua sisa air mata. Tercurahkan semua cinta. Yang kita harap bersama adalah jatuh lembut di jemari Mu dalam “Alunan Temu”dengan segala harap baik yang selalu dipanjatkan. Agar hidup tetap baik-baik saja. Bukankah itu tujuan kita?