Saat Saya Menyebalkan, Ia Memilih Menjadi Penawar Letih

Catatan setelah mendengarkan “Penawar Letih” dari The Rain.

Saat Saya Menyebalkan, Ia Memilih Menjadi Penawar Letih

Catatan setelah mendengarkan “Penawar Letih” dari The Rain.

13/02/2026

Ada fase dalam hidup ketika cinta tidak lagi terdengar seperti kembang api. Ia lebih mirip lampu teras yang dibiarkan menyala semalaman; tidak mencolok, tapi cukup untuk memastikan kita tidak berjalan dalam gelap.

Usia mengubah cara saya memahami cinta. Bukan persoalan perasaan yang meledak-ledak–butterfly in your tummy, katanya–melainkan sesuatu yang tinggal ketika saya sedang tidak baik-baik saja. Hari-hari terasa terlalu panjang, kepala terlalu penuh, bahkan saya menjadi versi yang mudah tersinggung dan, barangkali, melelahkan.

Di masa seperti itu saya sempat merasa tenggelam. Bukan karam yang dramatis, hanya perlahan kehilangan tenaga untuk berenang. Lalu seseorang yang berjalan bersama saya berkata, ia lebih senang saya menyebalkan. Kalimat itu aneh, sangat tidak puitis, bahkan saya pikir hampir seperti lelucon. Belakangan saya tau, ia sedang mengutip sebuah lagu “Penawar Letih” dari The Rain.

Saya mendengarkannya dengan rasa ingin tau yang sederhana, lalu berhenti pada bait yang terasa terlalu jujur untuk diabaikan: Walau terkadang kau juga menyebalkan / namun tak mengurangi teduh tatapan.

Ada kelegaan yang sulit dijelaskan ketika membaca dua baris itu. Selama ini kita sering mengira dicintai berarti tampil menyenangkan, ringan, mudah. Itu pula yang sering kita idam-idamkan. Padahal, tidak semua bisa berjalan sesuai impian.

Lirik-liriknya bergerak tanpa banyak hiasan. Berangkat dari pagi buta / hingga malam datang menyapa / namun hilang semua letihku / melihat senyuman itu. Dunia tetap menuntut. Kota tetap keras. Lelah tidak disangkal. Namun ada satu senyuman yang membuat semuanya lebih mungkin dijalani. Cinta tidak selalu datang di waktu yang indah, apalagi dengan kewajiban menyelesaikan masalah. Ia bisa hadir setelah hari yang panjang dan duduk di sebelah tanpa banyak bicara. Tak menyelesaikan apa pun, tapi membuatnya lebih mungkin dihadapi. Dan bagi saya, itu jauh lebih dewasa.

Ada satu detail kecil yang membuat lagu ini terasa semakin dekat. Vokalisnya, Indra Prasta, berasal dari Pekanbaru, kota yang juga membentuk saya. Barangkali itu tak berarti apa-apa. Namun ada perasaan akrab ketika suara tentang keteduhan itu lahir dari tanah yang sama.

Mungkin saya terlalu jauh membaca, tetapi saya senang membayangkan perjalanan lagu-lagu The Rain seperti fase bertumbuh. Dari “Terlatih Patah Hati” yang mengajarkan kita berdiri setelah jatuh, menuju “Gagal Bersembunyi” saat perasaan tak lagi bisa disangkal, hingga akhirnya sampai pada fase yang lebih tenang: menemukan seseorang yang menjadi “Penawar Letih”. Apakah itu memang trilogi yang dimaksud? Mungkin tidak. Tapi dalam pengalaman saya, begitulah cinta bekerja. Ia bergerak dari luka, menuju keberanian mengakui, lalu berlabuh pada keteduhan.

Cinta, setelah segala metafora dan perayaan, bukan tentang membuat hidup selalu berbunga-bunga. Ia tidak menawarkan ilusi. Ia hanya berjanji dengan tenang: memastikan saya tidak karam, dan mengingatkan bahwa betapapun beratnya hidup, ia tak perlu dijalani sendirian. Tetaplah menjadi penawar letihku dan aku berjanji s’lalu menjagamu.

Rizka Oktivani

Suka nulis ajah sih.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga