Soal hidup berdampingan, bapakku punya wejangan, “berkawanlah dengan siapa pun, ambil baiknya.”
Baru belakangan kusadari, sejak saat ucapan itu disampaikan, memang sudah tidak muatan soal ketulusan saat dihadapkan oleh hubungan. Ada ekspektasi terhadap orang lain. Selalu ada “saling”, take and give orang bilang. Ketulusan manusia selalu berdampingan dengan harapan.
Tanpa kita sadari, kita terlahir ke dunia sudah sepaket dengan harapan-harapan yang disematkan oleh orang tua dan keluarga. Bahkan mereka yang menjenguk merapalkan doa-doa. Yang dalam bahasa Indonesia, artinya juga harapan. Ketulusan bukan sekadar pilihan moral, tapi hasil konstruksi sosial sejak lahir.
Yang mungkin mereka juga tidak sadari akan membebani sang bayi kala dewasa nanti. Meskipun disambut dengan suka cita dan penuh cinta kasih. Tapi di saat yang bersamaan mereka menciptakan sebuah tuntutan yang kelak bisa dibuktikan. Sadar atau tidak sadar.
Seiring berjalannya waktu, disayang dan dimanja dalam tumbuh kembang, dari bayi hingga beranjak dewasa dan mandiri. Dalam rangkaian fase itu, kita juga diajarkan tentang ketulusan. Tentang cara membantu sesama tanpa harus orang lain tahu. Tentang penerimaan situasi dan kondisi apa pun terhadap diri kita. Sabar dan ikhlas. Dua kata kunci yang tersublimasi dalam karakter sehari-hari. Hingga sampai sebegitunya karakter kita terbentuk dan moral kompas kita semakin akurat memaknai ketulusan.
Namun sayang tidak sebegininya yang kita terima. Mulai dari perkataan dan perlakuan, seakan air susu berbalas air tuba. Entah itu lewat pasangan, keluarga, atau rekan kerja. Seisi dunia yang kita tahu terasa begitu tega kepada kita. Ada saja yang membuat kita selalu gundah gulana. Didera kegalauan akut. Seisi dunia seakan tak berpihak pada langkah kita.
Saat itulah perasaan dan pikiran tidak sejernih ajaran ketulusan yang ditanamkan. Runtuh seada-adanya. Diuji oleh ketidakadilan. Titik terendah pun dirasa. Di luar nalar rasanya saat semua itu terjadi.
Pertanyaan demi pertanyaan terhunjam begitu saja. Lekas-lekas dipikirkan banyak hal positif untuk mengimbangi energi negatif. Muka murung dan lusuh tak tertahankan biarpun sudah mandi berkali-kali. Lelah yang tak segera berganti cerah.
Dan percayalah, mereka yang hadir di titik tersebut, yang mengajakmu bangkit. Tanpa aba-aba dan tanpa diminta. Mereka benar-benar hadir. Maka bait di pembuka lagu Idgitaf – “Sedia Aku Sebelum Hujan” menjadi nyata adanya. Ketulusan selalu hadir sebelum hujan, bukan setelah badai usai. Sebagai pengingat bahwa kita masih punya banyak cara untuk tidak kalah dengan dunia.
Betapa seseorang, siapa pun hubungannya denganmu, sekalipun ia adalah lawan yang sengit, tetap punya naluri untuk berbuat tulus. Karena kita dilahirkan dengan fase yang serupa. Dibekali ekspektasi, ditempa dengan pelajaran hidup, dan disadarkan dengan tangan-tangan tulus.
Dalam ingatan yang kurang kurawat, katanya itu adalah hasil dari amalan ketulusan yang kita perbuat semasa hidup. Karma baik. Yang tak perlu diharapkan, Tapi akan hadir di waktu-waktu yang pas. Lebih mulia dari sekadar transaksional di tatanan sosial.
Memang sebegitunya aku melihat makna ketulusan yang rupanya menjadi bekal penolong di masa-masa kritis. Aku, kamu, dan kita semua punya sudut pandang ketulusan masing-masing. Selama hal itu dijalankan dengan kebaikan di dalam naluri, maka ketulusan tetap sebegitunya dan selalu punya ruang sebegininya untuk kita maknai. Ketulusan sebagai nilai atau ketulusan sebagai praktik sosial.