Jatuh Cinta sebagai Pilihan dan Hatiku Berbunga-bunga

Catatan setelah mendengarkan “Itulah Cinta” dari Naif.

Oleh

Jatuh Cinta sebagai Pilihan dan Hatiku Berbunga-bunga

Catatan setelah mendengarkan “Itulah Cinta” dari Naif.

Oleh

13/02/2026

Kita punya banyak lagu populer dengan tema cinta. Tapi kalau ditanya siapa yang bisa memasak tema ini dengan baik, buat saya Naif adalah salah satunya. Mereka memperkenalkan “Piknik ‘72”, “Aku Rela”, “Jikalau”, “Di Mana Aku Di Sini”, “Benci untuk Mencinta”, “Karena Kamu Cuma Satu”, “Buta Hati”, “Planet Cinta”, dan sebagainya. Naif berkisah tentang hal-hal yang terjadi di sekitar cinta, mulai dari masa kencan, kebimbangan di tengah jalan, merasa ditinggalkan, perpisahan, hingga lantun memuji pasangan.

Ketika anak baru gede pada 2007-an merasa gugup di hadapan sosok yang memesona, Naif menjawabnya dengan “Itulah Cinta”.

‘Ku serasa di surga

dan hatiku berbunga-bunga

Mungkin, jatuh cinta–meski pada akhirnya kita gagal bersama pujaan–adalah kenangan menjijikan. Kita pernah bersikap bodoh atas nama getar yang buru-buru disimpulkan sebagai panah asmara. Di sisi lain, setelah jauh melangkah dari babak tersebut, ia jadi penanda bahwa bunga-bunga yang tumbuh di dada terasa nyata. Maka kenangan menggelikan yang dialami semasa sekolah itu tidak benar-benar lenyap. “Siapa cinta pertamamu?”, “Gimana waktu itu jadiannya?”, “Terus putusnya kenapa?”. Mereka masih bisa kita jawab, walaupun samar dan ringkas. Yang dulu terbilang serius kini jadi fragmen-fragmen menggelikan.

“Itulah Cinta” dirilis oleh Naif lewat album Televisi (2007). Tidak ada lirik yang istimewa dari lagu ini. Bisa saja nukilan ‘ku serasa di surga terdengar lebay atau apakah dirimu yang mampu membuat hatiku bagai melayang di awan tertuduh banal dan murahan. Namun, di balik metafora-metafora canggih lagu arus utama, apa sih cinta kalau bukan cheesy? Lagipula, apa sih cinta kalau bukan cheesy?

Hari ini “Itulah Cinta” tidak ada di digital streaming platform. Setelah Naif bubar, lagu tersebut makin jarang terdengar. Saya mencoba mendengarkannya lagi. Ingatan saya tidak terbang dan mencari daratan tentang cinta pertama, bab plot tiwst, atau bagaimana semuanya berakhir. Justru, yang muncul adalah niatan untuk membaca ulang peristiwa internal berjudul jatuh cinta. Perasaan berbunga-bunga itu ternyata tidak pernah muncul dengan sendirinya.

Jatuh cinta itu pilihan. Karena, bagaimana bisa jatuh cinta dengan seseorang yang nilai-nilainya tidak sejalan dengan kita? Kita menyeleksi dan mengurasi supaya tidak terjebak di hubungan yang manipulatif. Kita memilih meluangkan waktu yang sangat terbatas untuk merawat cinta bersama pasangan yang tepat–bukan enabler atau pelaku kekerasan seksual, misalnya. ‘Ku yakin itulah cinta // ‘ku yakin itulah asmara oleh Naif bekerja sebagai tujuan yang diproses tanpa henti. Bahkan, ketika sudah berkomitmen dalam sebuah hubungan pun, pekerjaan ini tidak selesai, malah lebih menantang: bangun pagi dan tidur malam bertemu; teman ngobrol, kawan diskusi, lawan debat sepanjang detik; satu orkestra mengatur operasional rumah; sahabat yang saling merangkul dan menguatkan dalam lelah; ruang aman untuk menuju pribadi terbaik.

Rasa bosan punya celah dari segala penjuru. Dengan begitu, setiap kita punya tugas yang sebaiknya dikerjakan dengan getol, yakni merawat sparks serta memilih jatuh cinta, lagi dan lagi.

Adakalanya kita mengartikan jatuh cinta sebagai teperosoknya diri ke jurang dalam kerangka slow motion. Ah nyatanya kita tidak semenyedihkan itu. Gelora tidak turun dari langit. Rindu bisa disiasati. Jatuh cinta dapat diupayakan sehingga kita tidak ragu untuk bilang sedang merasakannya, dan hatiku berbunga-bunga di ujung hari.

Yudhistira

Orang biasa yang suka menulis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga