Trigger Warning: Mengandung topik bunuh diri.
Sumber Foto: Kemensos via Detik.com
Rabu pagi linimasa bergerak seperti biasa. Ada mereka yang masih sibuk mengoprek dokumen-dokumen Epstein, ada yang misuh-misuh karena idolanya gagal menang piala Grammy, juga ada yang asyik brewek kartu-kartu Pokémon. Lalu sebuah unggahan membuat banyak orang tertegun lebih lama dari biasanya: YBS, seorang anak sepuluh tahun memilih mengakhiri hidupnya. Ia meninggalkan pesan untuk ibunya agar tidak khawatir. Salah siapa?
Di kolom komentar, seseorang menulis singkat: “Jangan dikit-dikit nyalahin negara, kita semua perlu introspeksi diri. Ke mana peran orang tuanya?”
Kalimat itu terdengar begitu masuk akal sampai nyaris tak perlu dipertanyakan. Artinya, orang tua adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab penuh atas hidup anak tersebut. Namun, mari kita coba membayangkan pelan-pelan: introspeksi seperti apa yang dimaksud? Orang tua seperti apa yang diharapkan oleh komentar itu?
Hidup seorang anak adalah lorong sempit yang dinding-dindingnya dibangun oleh orang dewasa. Pada usia itu, ia belum sepenuhnya mengenal dirinya sendiri, apalagi memahami luka-luka struktural. Ia tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan, dalam keluarga seperti apa ia akan tumbuh, serta apakah lingkungan sekitar mampu mengayomi atau justru menggerusnya.
Barangkali kita semua lupa, introspeksi adalah sebuah kemewahan. Ia butuh jarak, bahasa, dan rasa aman untuk benar-benar bisa diamini. Ia lahir dari ruang yang memungkinkan seseorang mengakui kesalahannya, tanpa rasa takut bahwa besok ia tidak bisa makan.
Kita berbicara peran orang tua seolah ia hadir secara otomatis. Seolah semua orang tua punya cukup waktu dan ketenangan untuk menjadi orang tua versi ideal seperti di konten-konten dan buku-buku parenting modern. Padahal banyak orang tua hidup dalam kelelahan tanpa batas. Pulang malam. Bangun terlalu pagi. Menghitung uang sembari menahan cemas. Mengasuh anak sambil bernegosiasi dengan rasa takut kalau besok-besok hidup mereka tak akan cukup. Peran orang tua tidak pernah lahir di ruang kosong. Ia tumbuh, atau justru layu dalam kondisi ekonomi, kebijakan, jam kerja, upah, dan sistem dukungan yang memungkinkan atau meniadakannya.
Di atas semua itu, negara berdiri sebagai arsitek dari ritme hidup kita sehari-hari. Negara, bagi sebagian orang, terdengar seperti konsep yang jauh dan saklek. Padahal dalam banyak aspek, negara hadir dalam bentuk yang sangat sehari-hari: ruang kelas yang terlalu penuh, guru yang kehabisan gaji, layanan kesehatan mental yang ala kadarnya, atau rumah yang sunyi karena orang tuanya selalu sibuk bertahan hidup.
Ketika seorang anak berusia sepuluh tahun menyerah, dan kita buru-buru bertanya, “Di mana peran orang tuanya?” Mungkin pertanyaan itu perlu ditarik sedikit ke belakang: Di mana negara ketika orang tua kehabisan napas? Di mana negara ketika masyarakat kehilangan ruang aman untuk benar-benar saling menjaga?
Introspeksi diri memang penting. Begitu juga peran orang tua dan masyarakat. Namun menuntut ketiganya tanpa melihat kondisi yang membentuknya adalah seperti meminta tanaman tumbuh tanpa melihat kondisi tanahnya.
Ketika kita berkata “jangan nyalahin negara”, sering kali yang kita maksud adalah: jangan ganggu rasa nyaman saya. Kita ingin dunia yang rapi. Maka yang salah adalah individu, yang gagal adalah pribadi, yang rusak adalah keluarga, yang runtuh adalah mentalnya sendiri. Dengan begitu, kita tidak perlu mengubah apa pun. Padahal kemiskinan tidak tumbuh dari rasa malas semata dan keputusasaan jarang lahir sendirian. Ia dibentuk perlahan oleh sistem yang mengeras dan kebijakan yang tidak pernah benar-benar menyentuh tanah.
Menyebut negara bukan berarti melepaskan tanggung jawab personal. Ia justru upaya mengingat bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya soal diri kita sendiri. Bahwa ada tangan-tangan tak terlihat yang ikut menyusun kemungkinan: siapa yang bisa jatuh dan siapa yang selalu ditangkap sebelum menyentuh lantai.
Dan barangkali di kepala kita masing-masing perlu memfermentasi pertanyaan kecil ini sedikit lebih lama: jika orang tua, masyarakat, dan anak sama-sama kelelahan, siapa yang paling diuntungkan ketika negara terus dibebaskan dari pertanyaan?
YBS tidak kalah dalam lomba ketahanan mental, tapi ia lahir di sebuah lintasan yang sudah pincang sejak garis start.