Cholil Mahmud: Cerita Miskin di Amerika & Tak Takut Cancel Culture

Cholil Mahmud, sosok yang hangat dan sederhana–sesederhana mimpinya untuk menjadi orang baik.

Oleh

Cholil Mahmud: Cerita Miskin di Amerika & Tak Takut Cancel Culture

Cholil Mahmud, sosok yang hangat dan sederhana–sesederhana mimpinya untuk menjadi orang baik.

Oleh

30/12/2025

Ada orang-orang yang menyampaikan keresahan hidup lewat teriakan. Ada juga yang memilih senyap, lalu meletakkannya pelan-pelan dalam lirik lagu. Cholil Mahmud masuk kategori kedua. Dalam hampir dua dekade, suaranya di dalam dan di luar Efek Rumah Kaca memantulkan sesuatu yang lebih besar: cara kita memandang keberanian, ketidakpastian, dan kejujuran.

Oktober 2025, kami berkunjung ke Kios Ojo Keos, duduk bersama Cholil, seorang musisi, ayah, pelajar yang kembali kuliah di usia matang, pendiri toko tersebut, sekaligus manusia yang mengaku tidak punya mimpi besar selain menjadi orang baik.

Inilah edisi perdana segmen Berbagi Perspektif di website Menjadi Manusia, sebuah ruang sederhana untuk membaca manusia lewat cerita-cerita yang membentuk dirinya.

***

Tahun 2025 ini, album pertama Efek Rumah Kaca (ERK) berusia 18 tahun. Jika mendengarkannya lagi hari ini, apakah ada yang ingin Mas Cholil ubah dari album Efek Rumah Kaca?

Kalo didenger lagi hari ini, yang mau direvisi banyak. Hahaha. Tapi bisa jadi setelah kita revisi, nggak akan jadi lebih baik. Dalam arti karena dia udah punya histori, dia punya sejarah yang bukan hanya audionya aja, tapi peristiwa-peristiwa di belakangnya yang juga terseret ikut setiap kita dengerin itu. Sekarang suara gue mungkin udah berubah. Dulu masih lebih tinggi range vokal gue. Jadi, gairah merevisi tuh ada, cuman nggak menjamin jadi lebih bagus.

ERK lekat dengan label band aktivis atau band kritis terhadap politik. Apakah label ini pernah terasa sebagai beban, atau justru sebuah kehormatan yang disyukuri?

Kami tuh sebenernya pengin menjalankan apa yang kami percaya. Tapi kami juga melihat apa yang bisa disuarakan dan menempatkan ERK di skena musik di Jakarta pada waktu tertentu. Kami memang secara alamiah punya ketertarikan ke situ (sosial dan politik). Seiring waktu ternyata publik juga merespons itu. Mungkin karena nggak banyak band pop dan independen yang ngomongin hal tersebut di tahun 2007-an kali ya.

Kami percaya musik bisa mempunyai berbagai peran, bisa menghibur, menginspirasi, menjadi tempat belajar. Main musik bisa menjadi awal untuk menyampaikan pendapat, berdialektika, memantik percakapan.

Nggak ada rasa keterpaksaan. Kalo kita ngerasa terpaksa bikin lagu karena diminta publik atau tuntutan popularitas, pasti konsekuensinya ya lelah, cuman lelahnya nambah. Kebetulan, kami memang tertarik. Jadi konsekuensinya kami tanggung.

Jadi, seniman itu punya tanggung jawab menyuarakan tema sosial dan politik?

Semua peran itu punya tanggung jawab sosial. Masyarakat punya tanggung jawab terhadap peran mereka. Tanggung jawabnya musisi, kalo menurut gue, bikin karya yang bagus. Jangan sampe seorang musisi nggak berdedikasi sama musiknya. Walaupun standar bagus itu beda-beda, tetep ada dedikasi yang harus dipertahankan. Estetika itu proses, bukan hasil akhir. Dari situ kan bisa ditakar: emang konsepnya kayak gitu atau menganggap enteng profesi lo sendiri?

Di semua profesi, ada tanggung jawab sosial, sesuatu yang inheren dengan kepentingan orang banyak.

Mas Cholil mengambil studi Art Politics di New York University (NYU). Bagaimana pengalaman itu membentuk diri Mas Cholil?

Secara langsung sih nggak ada. Misal, langsung jadi karya gitu, nggak ada. Tapi membentuk diri dan cara berpikir, gue jadi punya pandangan baru. Gue menunda judgement yang terlalu reaksioner, punya helicopter view yang makin luas. Pengaruh-pengaruhnya ke situ. Album satu dan album dua tuh cukup straight forward. Tapi album Sinestesia beda lagi tuh dalam cara menyampaikan sesuatu, ada perubahan, ini sedikit banyak gara-gara sekolah kayaknya.

Gue jadi memberi jarak antara apa yang kami (ERK) ketahui dan apa yang pengin disampaikan. Nggak terburu-buru. Itu sih manfaat dari sekolah yang gue rasakan. Ada metodologi baru di dalam tubuh gue untuk merespons sesuatu.

Mas Cholil pernah terjun langsung sebagai Bendahara KontraS. Apa yang mendorong Mas Cholil untuk terlibat secara struktural, tidak hanya menyentil dari luar?

Awalnya kan gue cuman main musik. Terus karena menyuarakan HAM dan sospol, akhirnya kenal sama temen-temen yang punya spirit sama, dengan approach yang berbeda. Dari situlah gue banyak belajar. Ada panggilan untuk masuk jadi anggota perkumpulan, terjun lebih dalam. Gue merasa mungkin ada yang bisa gue kontribusikan. Mungkin ada ilmu yang bisa gue dapat.

Kalo ada manfaatnya dan selama masih punya tenaga, ya udah, dilakukan. Sama kayak bikin Kios Ojo Keos sih. Kami seneng tempat ini punya manfaat buat orang lain. Dari yang awalnya cuman kenalan-kenalan aja, lama-lama yang main ke sini ya orang baru. Gue jadi banyak ngobrol dan belajar lagi kan.

Berarti, dengan banyaknya musisi muda yang main ke Kios Ojo Keos, itu juga jadi semacam wadah Mas Cholil untuk belajar?

Iya. Dulu kita tahun 2000-an ngeliat anak-anak IKJ, jadi belajar. Belajar dari temen-temen Bandung juga. Anak-anak Aksara kayak a, anak-anak Jakarta Timur kayak b. Kita jadi tau referensi mereka, kita nongkrong jadi tau approach yang mereka lakukan gimana, terinspirasi dari siapa, kayak gitu-gitu. Itu kan nambah pengetahuan.

Kalo sekarang, gue mungkin udah nggak punya waktu sebanyak dulu. Jadi, sekarang kenalannya di toko (Kios Ojo Keos), belajarnya di sini. Pengetahuan dan ketersambungan ini nggak terputus.

Menurut Mas Cholil, apakah politik dan kesehatan mental itu saling berkaitan? Bagaimana pandangan Mas Cholil?

Apakah politik yang buruk akan menggerogoti kesehatan mental? Iya, pasti. Gimana lo bisa menikmati kehidupan kalo pajak lo dikorupsi? Hahaha.

Pernahkah Mas Cholil merasakan titik terendah dalam hidup? Bagaimana ceritanya?

Pernah. Jadi waktu itu istri gue dapet beasiswa sekolah, setelah dia nyoba 10 tahunan kira-kira. Tiba-tiba dapet tuh beasiswa, di ujung umur persyaratan beasiswa. Pada saat itu kami udah punya anak. Gue mencari cara untuk bisa ikut, gue cari kerja di sana. Tapi nggak dapet. Akhirnya istri gue berangkat, gue sama anak gue di Indonesia.

Gue iba melihat anak gue, jauh sama ibunya. Gue cari cara lagi untuk bisa deket sama keluarga, salah satunya ya dengan sekolah. Gue diterima, gue jual rumah, gue jual harta benda dari hasil kerja bareng istri gue selama belasan tahun, gue berangkat kuliah.

Ngejalanin kuliah itu yang berat buat gue. Udah lama nggak kuliah. Itu dulu tugas-tugas kuliah sampe jadi mimpi buruk. Momen kuliah lagi tuh jadi peristiwa yang menekan, traumatis, tapi nggak ada pilihan lain. Gue lagi semangat-semangatnya nge-band, lagi ngerjain Pandai Besi, jadwal manggung masuk terus. Tapi tiba-tiba harus gue tinggalin itu semua. 

Gue sering merasa ada di situasi yang tanpa pilihan, akhirnya mau nggak mau harus dijalanin, apalagi ini layak diperjuangkan: keluarga gue bisa jadi bareng-bareng.

Terus, karena gue udah ninggalin semuanya dan jual banyak hal, pertanyaan gue satu: masa kuliah gue jelek sih? Udah banyak yang gue korbankan untuk ini. Jangan sampe performa gue nggak bagus di sekolah. Gue harus belajar. Sehari-harinya gue ngerjain paper di kereta, dengerin kuliah sambil jalan kaki, gue belajar di perpustakaan, baca buku, dan seterusnya. Tidur tuh paling 3-4 jam aja.

Gue kuliah pake duit sendiri, nggak dapet beasiswa. Miskin tuh gue di Amerika. Gue pernah ketinggalan bus. Kalo naik taksi, mahal banget. Akhirnya gue tungguin aja bus selanjutnya meskipun harus tidur dulu di terminal sama homeless. Ini lowest point dalam hidup gue.

Tapi gue bersyukur gue mengalami itu, bagian dari perjalanan. Gue ngerasa udah ngelewatin momen sulit dalam hidup sehingga sekarang gue nggak takut kalo ada rintangan di depan. Misal, gue kena cancel gitu suatu waktu, ya udah kayaknya nggak apa-apa deh. Gue bukan siapa-siapa juga.

Berarti pernah membayangkan di-cancel?

Oh iya dong. Bisa aja gue di-cancel. Perspektif orang kan pasti berubah-ubah. Mungkin aja sekarang perspektif gue masih cocok sama perspektif orang-orang. Tapi kalo perspektif orang-orang udah beda sama gue, bisa aja gue di-cancel.

Selama hidup sejauh ini, apa sih satu prinsip atau nilai hidup yang selalu dipegang?

Gue pengin jadi orang baik aja. Terus belajar, nggak ngerasa paling benar. Apa lagi ya? Gue udah nggak punya mimpi besar yang kayak gimana-gimana sih. Dengan segala keterbatasan yang gue punya, gimana caranya gue bisa mengoptimalkan sesuatu? Kalo gue dibuang ke hutan, gimana cara gue bertahan hidup? Jadi gue nggak jauh-jauh jangka berpikirnya. Bisa dibilang mungkin gue nggak pernah bermimpi. Gue cuman nggak mau jadi orang jahat dan bisa jadi orang yang bermanfaat buat sekitar.

Jadi, mengalir saja ya, Mas?

Iya. Nggak tau ya bagus atau buruk tuh kalo begitu? Hahaha.

Apa definisi Menjadi Manusia menurut Mas Cholil?

Menjadi manusia ya bermanfaat untuk manusia lainnya, termasuk memanusiakan manusia yang lainnya. Mengoptimalkan seluruh daya yang dia punya, mau berusaha jadi lebih baik, nggak ngerasa paling benar. Cukup itu. Berat tapi ya? Hahaha.

Apa satu hal yang paling Mas Cholil syukuri dalam hidup ini?

Punya kesempatan ngerasain lowest point. Itu pengalaman yang sekarang gue syukurin. Gue jadi punya bekal untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang berpotensi terjadi dalam hidup.

***

Di luar, hujan turun dengan deras. Cholil Mahmud menyeduh teh panas dan kami melanjutkan obrolan yang mulai ngalor-ngidul: resiliensi warga Indonesia di hadapan situasi politik, musik zaman sekarang, titik terendah, cinta keluarga, hingga mimpi yang tak harus besar.

Gue bukan siapa-siapa, tuturnya ketika ditanya tentang potensi cancel culture. Sosok yang karya dan suaranya telah didengarkan oleh banyak orang ini merasa dirinya bukan siapa-siapa. Dan, mungkin itu yang membuat seorang Cholil Mahmud sebagai sosok yang hangat dan sederhana–sesederhana bermimpi untuk menjadi orang baik.

Yudhistira

Orang biasa yang suka menulis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga